Bahaya sampah antariksa kini menjadi ancaman nyata yang mengincar kota-kota besar di dunia, termasuk Jakarta.
Laporan terbaru dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan fakta mengejutkan mengenai kondisi langit kita saat ini.
Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir, rata-rata terdapat satu potong puing luar angkasa yang jatuh kembali ke Bumi setiap harinya.
Baca Juga :
Meski hingga kini belum ada laporan mengenai korban luka serius, para peneliti mengingatkan bahwa risiko bahaya ini terus merangkak naik secara signifikan.
Potensi Jatuhnya Puing Roket yang Tak Terkendali
Sebuah studi komprehensif yang rilis pada tahun 2022 memberikan estimasi yang cukup mengkhawatirkan bagi keselamatan global.
Para ilmuwan memproyeksikan adanya peluang sebesar 10 persen bagi sampah antariksa tak terkendali untuk jatuh dan memicu korban jiwa dalam sepuluh tahun ke depan.
Baca Juga :
Angka ini bukan sekadar statistik kosong, melainkan peringatan keras bagi negara-negara yang berada di jalur lintasan orbit satelit aktif.
Laporan terbaru menunjukkan bahwa bahaya sampah antariksa skala besar terus meningkat seiring dengan tingginya frekuensi peluncuran misi komersial.
Mengapa Bahaya Sampah Antariksa Lebih Mengancam Global South?
Hal yang paling merisaukan dari fenomena ini adalah ketimpangan risiko geografis yang dihadapi oleh negara-negara berkembang.
Baca Juga :
Wilayah Global South, atau kawasan belahan bumi bagian selatan, memikul risiko yang jauh lebih besar dibandingkan wilayah utara.
Kota-kota padat penduduk seperti Jakarta di Indonesia, Dhaka di Bangladesh, hingga Lagos di Nigeria memiliki kerentanan yang tinggi.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa bahaya sampah antariksa ini tidak tersebar merata secara geografis.
Baca Juga :
Bahkan, kota-kota tersebut berpotensi tiga kali lipat lebih sering kejatuhan bekas peluncur roket dibandingkan kota metropolitan dunia lainnya seperti New York, Beijing, atau Moskow.
Kepadatan Orbit Bumi yang Mengkhawatirkan
Saat ini, ruang hampa di sekitar planet kita tidak lagi sepi, melainkan dipenuhi oleh jutaan ton limbah logam.
Data pelacakan menunjukkan ada sekitar 25 ribu objek buatan manusia berukuran di atas 10 sentimeter yang terus mengorbit tanpa kendali.
Baca Juga :
Di luar jumlah tersebut, terdapat jutaan fragmen mikro yang terlalu kecil untuk dipantau namun bergerak dengan kecepatan ribuan kilometer per jam.
Secara akumulatif, bobot material bekas satelit dan roket yang menyelimuti Bumi diperkirakan menembus angka 9.000 ton.
Keberadaan ribuan ton logam ini menciptakan efek domino yang sewaktu-waktu dapat meluncur deras menembus atmosfer.
Fenomena Hujan Api yang Disaksikan Astronaut
Proses jatuhnya puing luar angkasa ini bukan lagi sekadar teori di atas kertas, melainkan pemandangan nyata yang mengerikan.
Astronaut NASA, Chris Williams, sempat menyaksikan langsung peristiwa dramatis ini dari Stasiun Luar Angkasa Internasional
Saat ISS melintas di atas langit Afrika Barat, Williams melihat sebuah objek logam besar memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi.