Menutup posisi lima besar, Vivo mencatat pengiriman sebesar 2,1 juta unit dengan pangsa pasar 17 persen. Vivo mengalami penurunan pertumbuhan paling drastis, yakni mencapai 27 persen. Penurunan tajam ini terjadi karena keputusan strategis perusahaan untuk mengalihkan fokus ke profitabilitas. Vivo memilih menarik diri dari segmen entry-level yang selama ini menjadi andalan volume penjualan mereka, demi mengejar margin keuntungan yang lebih sehat.
Faktor Pemicu Lesunya pasar smartphone Asia Tenggara
Secara keseluruhan, total volume pengiriman ponsel pintar di kawasan ini mengalami kontraksi yang cukup dalam. Omdia mencatat bahwa pasar smartphone Asia Tenggara secara umum menyusut hingga 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan total pengiriman hanya mencapai 21,6 juta unit.
Baca Juga :
Salah satu pemicu utama kelesuan ini adalah meroketnya harga jual rata-rata (ASP) perangkat ke angka tertinggi sepanjang sejarah, yakni menyentuh US$349 atau sekitar Rp6,1 juta. Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 19 persen secara year-on-year. Lonjakan harga ini dipicu langsung oleh kenaikan biaya produksi komponen utama, terutama cip memori (DRAM dan NAND Flash) secara global.
Kenaikan biaya komponen memaksa para produsen untuk menaikkan harga jual eceran atau mengurangi fitur pada ponsel kelas murah. Akibatnya, konsumen di negara berkembang seperti Indonesia, Filipina, dan Vietnam yang sangat sensitif terhadap harga mulai menunda pembelian gawai baru. Fenomena ini mempengaruhi daya beli di pasar smartphone Asia Tenggara secara signifikan.
Kondisi ini juga memicu perubahan perilaku konsumen yang kini lebih memilih untuk menggunakan ponsel mereka dalam jangka waktu yang lebih lama. Alih-alih mengganti ponsel setiap tahun, masyarakat kini cenderung membeli perangkat kelas menengah ke atas yang memiliki masa pakai lebih panjang. Meskipun, mereka harus merogoh kocek lebih dalam di awal pembelian.
Baca Juga :
Prospek dan Tantangan ke Depan
Ke depan, para produsen ponsel pintar harus memutar otak untuk merumuskan strategi baru agar bisa bertahan. Pengalihan fokus dari kuantitas penjualan ke profitabilitas, seperti yang dilakukan oleh Vivo, diperkirakan akan diikuti oleh merek-merek lain jika harga komponen memori tidak kunjung stabil. Langkah taktis ini berpotensi menyebabkan peta persaingan di pasar smartphone Asia Tenggara menjadi semakin ketat dan dinamis.
Di sisi lain, kehadiran teknologi jaringan 5G yang semakin merata di kota-kota sekunder Asia Tenggara berpotensi menjadi katalis positif baru. Produsen yang mampu menghadirkan perangkat 5G dengan harga terjangkau namun memiliki spesifikasi mumpuni diprediksi akan merebut hati konsumen dengan lebih cepat pada kuartal-kuartal mendatang.
Bagaimanapun, dinamika perkembangan terbaru di pasar smartphone Asia Tenggara ini menunjukkan bahwa loyalitas konsumen kini sangat dipengaruhi oleh nilai fungsional dan ketahanan produk, bukan lagi sekadar perang harga murah.