Laporan ilmiah menunjukkan bahwa laju kenaikan permukaan laut saat ini mencapai 3,3 milimeter per tahun. Meski terlihat kecil, akumulasi selama beberapa dekade akan menciptakan dampak yang menghancurkan. Bagi kota-kota seperti Jakarta dan Manila, masalah ini diperburuk oleh penurunan tanah akibat penyedotan air tanah yang tidak terkendali untuk kebutuhan industri dan domestik.
Upaya Mitigasi dan Adaptasi Global
Menghadapi kenyataan pahit mengenai nasib Kota Terancam Tenggelam 2100 lainnya, banyak negara mulai membangun infrastruktur pertahanan laut yang masif. Di Jakarta, proyek Tanggul Laut Raksasa (Great Sea Wall) terus dikerjakan untuk menahan laju air laut. Namun, para ahli memperingatkan bahwa infrastruktur fisik saja tidak akan cukup tanpa adanya perbaikan manajemen lingkungan.
Baca Juga :
Restorasi ekosistem pesisir, seperti penanaman kembali hutan mangrove, menjadi solusi berbasis alam yang sangat efektif. Mangrove mampu meredam energi gelombang dan memerangkap sedimen, yang secara alami dapat menaikkan elevasi daratan pesisir. Selain itu, transisi energi dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan tetap menjadi kunci utama untuk memperlambat laju pemanasan global secara keseluruhan.
Kesadaran masyarakat internasional melalui kesepakatan iklim global sangat menentukan apakah prediksi NASA ini akan menjadi kenyataan atau bisa kita mitigasi. Jika emisi karbon tidak segera dikurangi secara drastis, maka skenario terburuk bagi kota-kota pesisir akan sulit untuk dihindari. Kita sedang berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan Kota Terancam Tenggelam 2100.