Selain fokus pada K63, peneliti juga menyoroti peran gen IGF2. Gen ini dikenal sebagai faktor pertumbuhan yang sangat krusial dalam pembentukan memori jangka panjang. Masalahnya, seiring bertambahnya usia, gen ini sering kali "mati" akibat proses yang disebut metilasi DNA. Metilasi adalah penambahan penanda kimia pada DNA yang menyebabkan gen tertentu tidak bisa lagi menjalankan fungsinya dengan baik.
Dengan menggunakan teknik CRISPR-dCas9, para ilmuwan berhasil mengaktifkan kembali gen IGF2 yang sebelumnya nonaktif pada subjek tikus berusia tua. Hasilnya, daya ingat subjek tersebut kembali tajam. Langkah ini dianggap sebagai terobosan besar dalam mencari cara memulihkan daya ingat bagi pasien yang sudah mengalami tanda-tanda awal penurunan kognitif atau pikun.
Baca Juga :
Pentingnya Waktu Intervensi yang Tepat
Meskipun temuan ini memberikan harapan besar, Timothy Jarome menekankan satu faktor kunci: waktu intervensi. Penelitian menunjukkan bahwa pemberian terapi pada subjek paruh baya yang belum mengalami gangguan memori tidak membuahkan hasil yang signifikan. Artinya, pengobatan ini bekerja paling efektif ketika proses penurunan fungsi otak sudah mulai terjadi namun belum mencapai tahap kerusakan permanen.
"Ketika gen diaktifkan kembali, performa memori meningkat secara dramatis. Namun, kita harus memahami bahwa waktu intervensi sangat penting. Terapi harus dilakukan saat penurunan mulai terjadi agar hasilnya maksimal," jelas Jarome. Hal ini memberikan petunjuk bagi dunia medis bahwa deteksi dini terhadap gejala pikun menjadi sangat krusial sebelum memulai prosedur pemulihan memori.
Ke depannya, penemuan ini diharapkan dapat diuji coba pada manusia melalui uji klinis yang ketat. Jika berhasil, teknologi penyuntingan gen bisa menjadi standar baru dalam pengobatan Alzheimer dan demensia. Masyarakat tidak perlu lagi merasa pasrah dengan kondisi pikun yang selama ini dianggap sebagai bagian alami dari penuaan yang tidak bisa dihindari.
Baca Juga :
Secara keseluruhan, pemahaman mendalam mengenai proses molekuler dan aktivasi genetik memberikan perspektif baru bagi kesehatan publik. Dengan dukungan teknologi medis yang terus berkembang, kita kini berada di ambang pintu revolusi kesehatan otak. Penerapan ilmu pengetahuan ini adalah kunci utama dan cara memulihkan daya ingat yang paling menjanjikan untuk generasi mendatang.