Tragedi kemanusiaan juga sempat mengguncang publik saat seorang pengantar makanan di Hangzhou ditemukan meninggal dunia setelah bekerja nonstop selama 18 jam pada September 2024. Kasus-kasus memilukan inilah yang mempercepat lahirnya aturan mengenai gaji driver ojol China. Pemerintah setempat kini menghitung pembayaran tidak hanya berdasarkan kecepatan, tetapi juga mempertimbangkan rata-rata pesanan harian, tingkat kepuasan pelanggan, dan aspek keselamatan kerja.
Sistem penilaian yang baru ini diharapkan mampu menghilangkan budaya kerja berlebih (overwork) yang selama ini menghantui pekerja gig. Dengan adanya jaminan pendapatan setara upah minimum, pengemudi tidak perlu lagi memaksakan diri bekerja hingga larut malam hanya untuk menutupi kebutuhan pokok harian yang semakin meningkat.
Baca Juga :
Peluang Indonesia Mengadopsi Model Kesejahteraan Gig Worker
Kondisi di China memberikan cermin bagi Indonesia yang memiliki jutaan pengemudi ojek online. Hingga saat ini, status hukum pengemudi ojol di tanah air masih tertahan pada label "mitra", yang sering kali membuat mereka tidak mendapatkan hak-hak dasar seperti upah minimum atau jaminan jam kerja. Demonstrasi pengemudi yang menuntut revisi potongan aplikasi dan legalitas status kerja terus berulang setiap tahunnya.
Jika Indonesia mampu mengadopsi prinsip gaji driver ojol China, maka kesejahteraan pengemudi ojol di Jakarta hingga pelosok daerah bisa meningkat signifikan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Perhubungan dapat mulai merumuskan batas atas jam kerja agar keselamatan di jalan raya lebih terjamin. Penerapan batas jam kerja otomatis melalui aplikasi bisa menjadi solusi konkret untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas yang melibatkan ojek daring.
Tentu saja, tantangan terbesar ada pada penyesuaian tarif bagi konsumen. Namun, belajar dari pengalaman di China, transparansi algoritma dan pelibatan serikat pekerja dalam menentukan kebijakan adalah langkah awal yang mutlak dilakukan. Perlindungan terhadap pekerja gig bukan lagi sekadar pilihan, melainkan keharusan di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital global.
Baca Juga :
Keberhasilan skema gaji driver ojol China dalam menyeimbangkan produktivitas perusahaan dan hak pekerja akan menjadi standar baru bagi negara-negara lain. Indonesia memiliki peluang besar untuk memimpin perubahan ini di Asia Tenggara dengan merumuskan undang-undang yang lebih memihak pada kemanusiaan. Pada akhirnya, teknologi seharusnya hadir untuk menyejahterakan manusia, bukan justru menjebak mereka dalam sistem kerja yang membahayakan nyawa.
Melihat urgensi yang ada, para pemangku kepentingan di Indonesia diharapkan segera melakukan kajian mendalam terhadap kebijakan gaji driver ojol China tersebut. Dengan regulasi yang tepat, profesi driver online tidak lagi dipandang sebagai pekerjaan sampingan yang rentan, melainkan profesi yang menjanjikan keamanan finansial dan jaminan sosial yang setara dengan sektor industri lainnya. Sudah saatnya Indonesia bergerak maju menerapkan skema gaji driver ojol China demi keadilan.