Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
Awal Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, BMKG Beri Peringatan
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Awal Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, BMKG Beri Peringatan

Ana Octarin
Ana OctarinTim Redaksi beta.technonesia.id
Sabtu, 18 April 2026 - 18:55 WIB
Awal Musim Kemarau 2026 Datang Lebih Cepat, BMKG Beri Peringatan

Awal Musim Kemarau 2026

Sumber Foto :www.cnbcindonesia.com
Thumb 1
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Technonesia - Awal Musim Kemarau 2026 di Indonesia diprediksi akan menyapa lebih awal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya menurut laporan terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Fenomena ini menjadi perhatian serius karena pergeseran pola cuaca ini dipicu oleh berakhirnya fase La Nina lemah yang terjadi pada Februari 2026. Kini, kondisi atmosfer global tengah bergerak menuju fase netral dan menunjukkan kecenderungan kuat akan berkembang menjadi El Nino pada pertengahan tahun nanti.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengungkapkan bahwa pemantauan terhadap anomali iklim di Samudra Pasifik menunjukkan angka indeks ENSO berada pada level -0,28. Angka ini mengindikasikan fase netral yang kemungkinan besar akan bertahan setidaknya hingga Juni 2026. Namun, masyarakat perlu waspada karena peluang kembalinya El Nino dengan kategori lemah hingga moderat mulai meningkat pesat pada semester kedua tahun ini dengan probabilitas mencapai 60 persen.

Meskipun fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) diperkirakan tetap berada pada fase netral sepanjang tahun, transisi menuju El Nino tetap membawa konsekuensi besar bagi curah hujan di tanah air. Perubahan ini mengakibatkan berkurangnya pasokan uap air yang biasanya memicu hujan, sehingga mempercepat datangnya periode kering di berbagai wilayah strategis Indonesia.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Peta Sebaran Wilayah Awal Musim Kemarau 2026

Berdasarkan data klimatologi, BMKG mencatat bahwa Awal Musim Kemarau 2026 akan mulai dirasakan sejak bulan April mendatang. Setidaknya terdapat 114 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 16,3 persen wilayah Indonesia yang akan memasuki masa transisi ini lebih dulu. Daerah-daerah yang berada di garis depan kekeringan ini meliputi pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian besar wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, hingga sebagian Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menambahkan bahwa gelombang kekeringan ini akan terus meluas secara bertahap. Pada bulan Mei, sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah lainnya akan menyusul masuk ke musim kemarau. Puncaknya, pada Juni 2026, tambahan 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah tanah air akan benar-benar kehilangan intensitas hujannya.

Secara kumulatif, BMKG memproyeksikan bahwa 46,5 persen wilayah Indonesia akan mengalami Awal Musim Kemarau 2026 yang lebih maju dari rata-rata klimatologisnya. Sementara itu, hanya sekitar 24,7 persen wilayah yang akan mengalami kemarau sesuai jadwal normal, dan 10,3 persen wilayah lainnya justru mengalami keterlambatan musim kering.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Dampak Kekeringan dan Fenomena Bawah Normal

Kekhawatiran BMKG tidak hanya terbatas pada durasi, tetapi juga pada sifat hujan selama musim kering tersebut. Musim kemarau tahun ini diprediksi akan jauh lebih kering dari biasanya. Sebanyak 451 ZOM atau 64,5 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemarau dengan sifat "Bawah Normal". Artinya, curah hujan yang turun akan jauh di bawah rata-rata tahunan, yang berpotensi memicu kekeringan meteorologis yang parah.

Wilayah-wilayah yang masuk dalam zona merah kekeringan ini meliputi:

  • Sebagian besar Pulau Sumatra (terutama bagian timur dan selatan).
  • Seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
  • Kalimantan bagian selatan dan timur yang rawan kebakaran hutan.
  • Sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga wilayah Papua.

Kondisi ini diperparah dengan prediksi puncak musim kemarau yang akan terjadi secara serentak pada Agustus 2026 di 429 ZOM. Dengan curah hujan yang minim dan suhu udara yang cenderung meningkat akibat El Nino, risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta krisis air bersih menjadi ancaman nyata yang harus diantisipasi sejak dini.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Langkah Antisipasi Sektor Pangan dan Sumber Daya Air

Mengingat Awal Musim Kemarau 2026 yang datang lebih gasik, BMKG menghimbau pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk segera melakukan langkah mitigasi. Sektor pertanian menjadi yang paling rentan terdampak, terutama terkait pola tanam dan ketersediaan air irigasi. Para petani disarankan untuk memilih varietas tanaman yang lebih tahan kekeringan atau memiliki siklus panen yang lebih singkat guna menghindari gagal panen.

Selain itu, pengelolaan sumber daya air di waduk, embung, dan bendungan harus dilakukan secara optimal. Pengisian cadangan air harus dimaksimalkan sebelum curah hujan benar-benar hilang. Di sisi lain, masyarakat juga diminta untuk mulai membudayakan hemat air dan mewaspadai potensi penyakit yang sering muncul saat cuaca panas ekstrem melanda.

Pemerintah daerah di wilayah yang diprediksi mengalami kemarau lebih panjang juga perlu menyiapkan skema bantuan air bersih dan pemadam kebakaran hutan. Koordinasi lintas sektor antara BMKG, BNPB, dan Kementerian Pertanian menjadi kunci utama dalam meminimalisir kerugian ekonomi dan dampak sosial yang mungkin timbul akibat pergeseran iklim ini.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Dengan pemahaman yang baik mengenai jadwal Awal Musim Kemarau 2026, diharapkan seluruh lapisan masyarakat dapat lebih siap dalam menghadapi tantangan alam ini. Kesiapsiagaan sejak dini adalah investasi terbaik untuk menjaga ketahanan pangan dan stabilitas lingkungan di tengah ketidakpastian iklim global yang terus berubah.

Dapatkan informasi terbaru seputar Gadget, Otomotif, Tech dan Berita Tekno lainnya setiap hari melalui social media TECHNONESIA. Ikuti kami di :

TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved