Technonesia - Serangan rumah Sam Altman menggemparkan publik setelah kediaman bos OpenAI tersebut menjadi sasaran aksi anarkis bertubi-tubi dalam satu pekan terakhir. Insiden ini bermula dari aksi nekat seorang pria yang mencoba membakar gerbang rumah Altman hingga berlanjut pada aksi penembakan misterius. Gelombang teror ini diduga kuat berkaitan dengan sentimen negatif terhadap perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) yang dianggap mengancam eksistensi manusia.
Pihak kepolisian telah mengamankan pelaku pertama bernama Daniel Moreno-Gama, seorang pemuda berusia 20 tahun. Jaksa federal melayangkan tuduhan serius terhadap Moreno-Gama atas upayanya membakar gerbang luar kediaman Altman pada hari Jumat lalu. Setelah melancarkan aksinya, pelaku sempat melarikan diri dengan berjalan kaki sebelum akhirnya pihak berwenang berhasil melacak keberadaannya.
Tidak berhenti di kediaman pribadi, Moreno-Gama juga diduga mencoba melakukan pembakaran di kantor pusat OpenAI yang berlokasi di San Francisco. Aksi tersebut ia lancarkan hanya berselang satu jam setelah percobaan pembakaran di rumah Altman. Petugas keamanan di lokasi melaporkan bahwa pria tersebut mencoba menghancurkan pintu kaca gedung menggunakan sebuah kursi.
Baca Juga :
Motif di Balik Serangan rumah Sam Altman dan Risiko Kepunahan
Penyelidikan lebih lanjut mengungkap fakta mengejutkan mengenai motif pelaku. Pihak berwenang menemukan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian, termasuk jerigen berisi minyak tanah dan korek api. Namun, temuan yang paling mencolok adalah sebuah dokumen yang dibawa oleh Moreno-Gama yang berisi narasi kekhawatiran mendalam terhadap teknologi AI.
Dokumen tersebut secara spesifik membahas potensi risiko AI terhadap umat manusia dan merujuk pada skenario kepunahan massal yang ia klaim akan segera terjadi. Di dalam berkas itu, pelaku juga mencantumkan daftar nama serta alamat lengkap anggota dewan, CEO, hingga investor dari berbagai perusahaan teknologi terkemuka. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Serangan rumah Sam Altman merupakan aksi terencana yang menargetkan tokoh-tokoh kunci di industri kecerdasan buatan.
Fenomena kebencian terhadap pengembang AI memang tengah meningkat di beberapa belahan dunia. Sebagian kelompok merasa bahwa kemajuan teknologi yang Sam Altman pimpin dapat menghilangkan lapangan pekerjaan secara masif atau bahkan lepas kendali. Ketakutan inilah yang diduga memicu radikalisasi individu seperti Moreno-Gama untuk melakukan tindakan kriminal nyata.
Teror Susulan dan Aksi Penembakan di Lombard Street
Belum reda ketegangan dari aksi pertama, Serangan rumah Sam Altman kembali terjadi pada Minggu pagi berikutnya. Kali ini, aksi kekerasan melibatkan senjata api. Berdasarkan laporan dari pihak keamanan, sebuah mobil yang mengangkut dua orang berhenti tepat di depan rumah Altman yang terletak di kawasan ikonik Lombard Street, San Francisco.
Dua pelaku yang teridentifikasi bernama Amanda Tom (25) dan Muhammad Tarik Hussein (23) diduga berada di balik serangan kedua ini. Saksi mata menyebutkan bahwa seseorang dari kursi penumpang mengeluarkan tangan dari jendela dan melepaskan tembakan ke arah rumah tersebut. Meskipun pelaku sempat melarikan diri, kamera pengawas (CCTV) berhasil merekam pelat nomor kendaraan mereka, yang berujung pada penangkapan cepat oleh polisi.