Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
Pekerjaan Kreatif Era AI Lebih Mahal dari Insinyur?
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Pekerjaan Kreatif Era AI Lebih Mahal dari Insinyur?

Iphan S
Iphan STim Redaksi beta.technonesia.id
Minggu, 05 April 2026 - 23:59 WIB
Pekerjaan Kreatif Era AI Lebih Mahal dari Insinyur?

Pekerjaan kreatif era AI

Sumber Foto :www.cnbcindonesia.com
Thumb 1
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Technonesia - Pekerjaan kreatif era AI kini menjadi fokus utama miliarder Kanada, Kevin O'Leary, di tengah badai PHK yang melanda sektor teknologi global. Sosok yang populer melalui acara "Shark Tank" ini mengungkapkan sebuah pergeseran paradigma yang cukup mengejutkan mengenai nilai sebuah profesi. Jika sebelumnya dunia sangat mendewakan lulusan teknik atau insinyur, kini arah mata angin mulai berbalik menuju industri kreatif yang mampu menyentuh sisi emosional manusia.

O'Leary menjelaskan bahwa struktur gaji di perusahaan-perusahaannya mengalami transformasi besar karena peran kecerdasan buatan. Menurutnya, kemampuan untuk bercerita dan membangun narasi brand jauh lebih sulit digantikan oleh mesin dibandingkan dengan penulisan kode pemrograman dasar. Hal ini memicu lonjakan permintaan terhadap individu yang memiliki intuisi seni dan kemampuan komunikasi visual yang kuat.

Dahulu, banyak orang tua mendorong anak-anak mereka untuk menjadi insinyur demi jaminan masa depan yang mapan. Namun, saat ini, menjadi seorang seniman digital atau penutur cerita justru memberikan peluang pendapatan yang jauh lebih fantastis. Fenomena pekerjaan kreatif era AI membuktikan bahwa kreativitas manusia tetap menjadi aset paling berharga yang tidak bisa diduplikasi secara sempurna oleh algoritma mana pun.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Mengapa Pekerjaan Kreatif Era AI Kini Dibayar Mahal?

Salah satu poin krusial yang diangkat oleh O'Leary adalah efektivitas konten dalam mendatangkan keuntungan nyata bagi perusahaan. Ia memberikan contoh nyata dari pengalamannya mengelola berbagai portofolio bisnis. Dahulu, ia hanya membayar pembuat konten dengan gaji standar sekitar US$48.000 atau setara Rp750 juta per tahun. Angka tersebut dianggap cukup untuk posisi staf pemasaran pada masanya.

Namun, situasi saat ini sangat berbeda karena performa setiap konten dapat diukur secara presisi setiap minggunya. Para pembuat konten yang mampu mengubah penonton menjadi pelanggan setia kini mendapatkan apresiasi finansial yang luar biasa. O'Leary mengaku tidak ragu membayar mereka hingga US$250.000 (sekitar Rp3,9 miliar) karena hasil kerja mereka memberikan dampak langsung pada arus kas perusahaan.

Dalam ekosistem pekerjaan kreatif era AI, seorang individu tidak hanya dituntut untuk mahir mengoperasikan perangkat lunak. Mereka harus mampu menyusun strategi konten pendek di platform seperti TikTok, Instagram, dan LinkedIn yang mampu memicu pertumbuhan organik. Kemampuan untuk menulis naskah yang persuasif, melakukan penyuntingan video yang dinamis, dan mengubahnya menjadi iklan yang efektif adalah kombinasi keahlian yang sangat langka.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Peluang Pendapatan Hingga Miliaran Rupiah

Bagi anak muda yang mampu menguasai pasar digital, O'Leary memprediksi potensi penghasilan mereka bisa mencapai setengah juta dolar atau sekitar Rp7,8 miliar per tahun. Angka ini jauh melampaui gaji rata-rata manajer menengah di perusahaan konvensional. Kuncinya terletak pada kemampuan mengawinkan teknologi AI dengan orisinalitas ide manusia untuk menciptakan kampanye pemasaran yang meledak di pasar.

TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved