- Oracle akan meninjau kode sumber untuk memastikan tidak ada backdoor atau celah keamanan.
- Namun, pengembangan dan pembaruan algoritma inti tetap dilakukan oleh ByteDance.
- Struktur ini adalah kompromi untuk memuaskan tuntutan pemerintah AS dan pemerintah China, yang sebelumnya melarang ekspor teknologi algoritma.
3. Data Pengguna AS: Benarkah Sudah Aman?
Pemerintahan Trump berulang kali menyatakan bahwa ancaman utama TikTok adalah potensi pengumpulan data pengguna AS oleh pemerintah China melalui ByteDance. Dengan Oracle yang kini mengelola data di server AS, masalah ini seolah-olah terselesaikan.
Namun, para kritikus berpendapat bahwa selama ByteDance masih memiliki kontrol teknis dan kepemilikan mayoritas, risiko tersebut tidak sepenuhnya hilang. Akses terhadap data, meskipun secara fisik berada di AS, masih bisa menjadi area abu-abu. Keamanan data ini akan sangat bergantung pada seberapa ketat protokol yang diterapkan dan diawasi oleh Oracle.
Baca Juga :
Bagaimana Nasib TikTok di Amerika Serikat ke Depannya?
Meski kesepakatan telah disetujui oleh Trump, nasib TikTok di Amerika Serikat masih belum 100% aman. Kesepakatan ini masih memerlukan persetujuan akhir dari regulator di AS dan China. Kompleksitas struktur kepemilikan dan kontrol teknologi bisa menjadi batu sandungan di masa depan.
Satu hal yang pasti, kesepakatan ini menjadi preseden baru tentang bagaimana perusahaan teknologi global harus menavigasi ketegangan geopolitik antara AS dan China. Ini adalah solusi kompromi yang dirancang untuk menenangkan semua pihak, meskipun tidak ada yang benar-benar mendapatkan semua yang mereka inginkan.
Pada akhirnya, meskipun Trump berhasil memaksa adanya entitas baru yang berbasis di AS, ia tidak sepenuhnya berhasil "menendang" China keluar dari ekosistem TikTok. ByteDance, dengan kepemilikan mayoritas dan kontrol atas algoritma, terbukti masih menjadi kekuatan yang tak tergoyahkan di balik aplikasi video pendek paling populer di dunia saat ini.