Terungkap! Ini 3 fakta mengejutkan di balik kesepakatan TikTok Donald Trump senilai Rp233 T. Benarkah ByteDance China masih punya kendali penuh?
Drama saga antara pemerintahan Donald Trump dan aplikasi fenomenal TikTok sepertinya telah mencapai babak baru. Setelah berbulan-bulan penuh ketidakpastian, Presiden AS Donald Trump akhirnya menandatangani perintah eksekutif yang merestui penjualan operasi TikTok di Amerika Serikat kepada konsorsium investor lokal.
Kesepakatan ini, yang digawangi oleh raksasa teknologi Oracle dan perusahaan ekuitas swasta Silver Lake, menciptakan entitas baru bernama TikTok Global dengan valuasi yang fantastis, mencapai US$14 miliar atau setara Rp233 triliun. Namun, jangan terkecoh dengan angka-angka besar ini. Di balik layar, kesepakatan ini jauh lebih rumit dari yang terlihat.
Baca Juga :
Deal Bernilai Fantastis, Tapi Penuh Tanda Tanya
Secara resmi, tujuan utama dari kesepakatan ini adalah untuk mengamankan data pribadi jutaan pengguna TikTok di AS dari potensi pengawasan oleh pemerintah China. Oracle diposisikan sebagai "mitra teknologi tepercaya" yang akan mengelola seluruh data pengguna AS di infrastruktur cloud mereka, menjanjikan keamanan tingkat tinggi.
Namun, banyak analis dan pakar keamanan siber yang masih skeptis. Pertanyaan besarnya adalah: Apakah kesepakatan ini benar-benar memutus hubungan TikTok AS dari induknya di China, ByteDance? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.
3 Fakta Mengejutkan di Balik Kesepakatan TikTok Donald Trump
Jika Anda berpikir penjualan ini berarti ByteDance benar-benar "ditendang" keluar dari Amerika, Anda mungkin perlu melihat lebih dalam. Ada beberapa detail krusial dalam struktur kesepakatan yang membuatnya tidak seperti akuisisi pada umumnya. Berikut adalah tiga fakta terpenting yang perlu Anda ketahui.
Baca Juga :
1. ByteDance Masih Jadi Pemain Utama
Ini mungkin fakta yang paling mengejutkan. Meskipun Oracle dan Walmart (sebagai bagian dari konsorsium) akan memiliki saham di TikTok Global, ByteDance dilaporkan akan tetap mempertahankan mayoritas kepemilikan saham, sekitar 80% sebelum entitas baru ini melantai di bursa (IPO). Angka ini jelas menunjukkan bahwa ByteDance masih menjadi pemegang kendali terbesar.
Meskipun investor AS akan memegang kendali mayoritas di dewan direksi TikTok Global, kepemilikan saham mayoritas oleh ByteDance memunculkan pertanyaan signifikan tentang sejauh mana pengaruh perusahaan China tersebut dapat dihilangkan. Ini membuat kesepakatan TikTok Donald Trump terasa lebih seperti restrukturisasi korporat yang kompleks daripada penjualan total.
2. Algoritma "Rahasia" Tetap di Tangan ByteDance
Apa yang membuat TikTok begitu adiktif dan viral? Jawabannya terletak pada algoritma personalisasinya yang sangat canggih. Inilah "saus rahasia" yang menjadi inti dari kesuksesan TikTok. Menurut laporan dari berbagai sumber, kesepakatan ini tidak mencakup transfer atau penjualan kode sumber algoritma tersebut.
Baca Juga :
ByteDance akan tetap memiliki dan mengelola algoritma inti tersebut dari China. TikTok Global hanya akan mendapatkan lisensi untuk menggunakan teknologi tersebut. Ini berarti, secara teknis, otak di balik operasional TikTok masih berada di tangan ByteDance. Poin-poin penting dari struktur ini adalah: