Akibatnya, terjadi kesenjangan antara apa yang dimiliki lulusan baru dan apa yang dibutuhkan industri. Memiliki ijazah saja tidak lagi cukup; pembuktian melalui portofolio dan sertifikasi keterampilan menjadi jauh lebih penting.
Baca Juga :
4. Kompetisi Global Akibat Tren Kerja Remote
Pandemi telah menormalisasi kerja jarak jauh (remote work). Ini berarti, sebuah perusahaan di Jakarta kini tidak hanya bersaing dengan talenta lokal, tetapi juga bisa merekrut talenta terbaik dari Bandung, Surabaya, atau bahkan negara lain dengan biaya yang lebih kompetitif.
Bagi pencari kerja, ini memperluas kolam persaingan secara drastis. Anda tidak lagi hanya bersaing dengan teman seangkatan di kota Anda, tetapi dengan ribuan profesional lain dari seluruh penjuru negeri, bahkan dunia.
5. Ekspektasi yang Tidak Selaras
Tantangan ini datang dari dua arah. Di satu sisi, ada perusahaan yang memasang kualifikasi tidak realistis, seperti mencari "posisi entry-level" namun dengan syarat pengalaman 3-5 tahun. Ini jelas membuat frustrasi para lulusan baru.
Baca Juga :
Di sisi lain, terkadang ada ekspektasi dari sebagian Gen Z yang dianggap kurang selaras dengan realitas pasar, misalnya mengharapkan gaji tinggi dan fleksibilitas penuh tanpa portofolio atau pengalaman yang kuat untuk mendukungnya. Menemukan titik temu antara ekspektasi perusahaan dan kandidat menjadi semakin sulit.
Beradaptasi atau Tertinggal
Pasar kerja saat ini memang brutal, dan mengakui adanya tantangan cari kerja Gen Z adalah hal yang valid. Siklus mengirim lamaran tanpa henti dan berujung penolakan memang menguras mental.
Namun, daripada pasrah, kuncinya adalah adaptasi dan strategi. Memahami cara kerja ATS, membangun portofolio yang menjual, memperkuat keterampilan yang relevan, dan melakukan networking secara aktif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Baca Juga :
Perjuangan ini nyata, tetapi dengan pendekatan yang lebih cerdas dan proaktif, peluang untuk menembus 'tembok' pasar kerja dan mendapatkan karier impian masih sangat terbuka lebar.