Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
3 Fakta Mencengangkan Munculnya Selat Muria Kembali Setelah 300 Tahun
Advertisement
Sponsor SLOT 16

3 Fakta Mencengangkan Munculnya Selat Muria Kembali Setelah 300 Tahun

Olin Sianturi
Olin SianturiTim Redaksi beta.technonesia.id
Minggu, 07 Desember 2025 - 03:18 WIB
3 Fakta Mencengangkan Munculnya Selat Muria Kembali Setelah 300 Tahun

Munculnya Selat Muria Kembali

Sumber Foto :Google Maps
Thumb 1
Thumb 2
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Ketika material endapan yang belum sepenuhnya padat (seperti lumpur bekas selat) dibebani oleh air, bangunan, atau sedimen baru, air di dalamnya akan terdorong keluar. Proses ini menyebabkan tanah "menciut" atau turun. Fenomena ini dipercepat oleh tingginya curah hujan yang membuat tanah jenuh, menambah bobot dan mempercepat konsolidasi sedimen.

2. Eksploitasi Air Tanah Berlebihan

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Ini adalah faktor antropogenik (disebabkan manusia) yang paling signifikan di banyak wilayah pesisir Indonesia. Ketika air tanah yang berada di bawah lapisan tanah ditarik keluar secara masif, pori-pori di dalam tanah menjadi kosong. Lapisan sedimen di atasnya kemudian runtuh ke dalam ruang kosong tersebut, menyebabkan permukaan tanah turun secara permanen.

3. Peningkatan Permukaan Air Laut (Sea Level Rise)

Meskipun subsiden adalah masalah lokal, ancaman global dari pemanasan iklim tidak bisa diabaikan. Kenaikan muka air laut secara global tentu memperburuk keadaan di wilayah yang sudah mengalami penurunan tanah. Bahkan kenaikan permukaan laut yang kecil pun akan signifikan, karena sebagian besar wilayah bekas Selat Muria berada pada elevasi yang sangat rendah, mendekati atau bahkan di bawah permukaan laut saat pasang.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Fakta Geologi Selat Muria: Dari Jalur Perdagangan Emas hingga Daratan Subur

Selat Muria bukan hanya sekadar celah air, tetapi merupakan jalur perdagangan maritim yang sangat penting pada masanya. Selat ini menghubungkan pantai utara Jawa dengan pelabuhan-pelabuhan di sekitar Gunung Muria, memungkinkan kerajaan-kerajaan seperti Demak untuk mencapai puncak kejayaan maritim.

Wilayah seperti Jepara, yang sekarang dikenal sebagai kota ukir, dulunya adalah kota pesisir yang menghadap langsung ke laut lepas, yang saat ini harus melalui daratan yang luas.

Proses hilangnya Selat Muria sekitar 300 tahun lalu terjadi karena sedimentasi yang masif dan berkelanjutan. Sungai-sungai besar seperti Sungai Serang terus membawa material vulkanik dan aluvial dari pegunungan, mengisi cekungan selat sedikit demi sedikit hingga akhirnya menyatu dengan daratan Jawa.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Saat ini, wilayah bekas selat tersebut dikenal sebagai dataran rendah yang sangat subur, menjadikannya lumbung pangan penting di Jawa Tengah.

Ancaman Tersembunyi di Pesisir Utara Jawa

Fenomena subsiden atau penurunan tanah bukanlah isu baru di Indonesia. Jakarta telah lama menghadapi masalah yang sama, namun potensi kembalinya Selat Muria membawa implikasi geologis dan historis yang unik.

Apabila tren penurunan tanah terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat—terutama terkait pengendalian eksploitasi air tanah dan pembangunan yang tidak memperhatikan struktur geologis—maka wilayah yang dulunya adalah laut mungkin akan kembali menjadi laut.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

BRIN menekankan pentingnya riset mendalam dan pemetaan geologi terperinci di wilayah pesisir Jawa Tengah.

Kita perlu memahami secara pasti seberapa cepat laju penurunan tanah di masing-masing area. Data ini krusial untuk menentukan kebijakan tata ruang dan mitigasi bencana banjir di masa depan.

BERITA TERKAIT

Advertisement
Sponsor SLOT 20
Advertisement
Sponsor SLOT 20
Advertisement
Sponsor SLOT 20
TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved