2. Skema Penamaan Perangkat yang Sangat Membingungkan
Xiaomi terkenal memiliki lini produk yang sangat luas, mencakup seri Mi/Xiaomi, Redmi, dan POCO. Namun, yang membuat para penggemar bahkan jurnalis teknologi bingung adalah skema penamaan yang sangat tidak konsisten.
Bisa jadi satu ponsel yang dijual sebagai “Redmi Note 12” di Indonesia, dinamai “POCO M4 Pro” di India, dan “Xiaomi 11T Lite” di pasar Eropa. Praktik ini dikenal sebagai re-branding yang agresif.
Kebingungan ini semakin diperparah dengan perilisan terlalu banyak varian dalam satu seri yang sama. Ambil contoh seri Redmi Note, yang bisa memiliki versi Pro, Pro Plus, Turbo, SE, dan 5G—semuanya dirilis dalam jarak waktu yang sangat berdekatan.
Baca Juga :
Hal ini membuat calon pembeli kesulitan membedakan mana peningkatan nyata dan mana sekadar penamaan ulang, yang merupakan salah satu Strategi Pemasaran Xiaomi Kontroversial yang paling sering menuai keluhan.
3. Pre-install Bloatware dan Aplikasi yang Sulit Dihapus
Meskipun sebagian besar ponsel Android memiliki aplikasi bawaan (bloatware), jumlah yang ditemukan pada perangkat Xiaomi sering kali jauh lebih banyak. Aplikasi pra-instal ini tidak hanya mencakup aplikasi buatan Xiaomi sendiri (seperti browser ganda atau aplikasi video), tetapi juga aplikasi pihak ketiga.
Aplikasi ini memakan ruang penyimpanan yang berharga dan seringkali berjalan di latar belakang, mengurangi daya tahan baterai dan kinerja sistem.
Baca Juga :
Yang lebih membuat Fitur MIUI yang Membuat Kesal adalah, banyak aplikasi bawaan tersebut tidak dapat dihapus (uninstall) melalui cara normal. Pengguna harus menggunakan trik tingkat lanjut, seperti ADB commands, hanya untuk membersihkan ponsel baru mereka.
4. Strategi Peningkatan OS dan Pembaruan yang Tidak Konsisten
Pengguna Xiaomi seringkali dihadapkan pada ketidakpastian mengenai kapan perangkat mereka akan mendapatkan pembaruan utama OS, seperti dari Android 13 ke Android 14, atau bahkan pembaruan keamanan bulanan.
Seringkali, Xiaomi mengumumkan daftar panjang perangkat yang akan menerima pembaruan, namun jadwal rilis global dan lokal menjadi sangat tidak menentu. Beberapa perangkat mungkin mendapatkan pembaruan lebih dulu di satu wilayah, tetapi tertunda berbulan-bulan di wilayah lain.
Baca Juga :
Ketidakkonsistenan ini diperburuk oleh masalah jaminan pembaruan yang seringkali tidak jelas, terutama pada seri Redmi kelas menengah. Sementara kompetitor seperti Samsung kini menawarkan jaminan pembaruan OS yang panjang, Xiaomi seringkali tetap pelit dalam hal pembaruan perangkat lunak, kecuali untuk seri flagship mereka.
5. Pembedaan Spesifikasi Perangkat Khusus Wilayah
Poin kelima ini terkait erat dengan masalah penamaan. Xiaomi seringkali menjual produk dengan nama yang sama, tetapi dengan spesifikasi internal yang berbeda drastis tergantung di mana produk itu dijual.
Contoh klasik adalah penggunaan sensor kamera yang berbeda, jenis panel layar (AMOLED vs. IPS), atau bahkan chipset yang berbeda (misalnya, Snapdragon di pasar tertentu dan MediaTek di pasar lain).