- Kompleksitas Optik dan Tantangan Backlight
- Kecepatan dan Akurasi Sensor yang Terbatas
- Biaya Produksi yang Tidak Sesuai Harapan
- Transisi Pasar yang Cepat ke Panel OLED
- Keterbatasan Pabrikan dan Skalabilitas
Untuk membuat pemindai sidik jari bekerja di bawah LCD, lapisan lampu latar harus dimodifikasi secara radikal. Hal ini bukan sekadar menghilangkan sebagian lampu, tetapi mendesain ulang jalur optik. Modifikasi ini seringkali mengorbankan kualitas visual layar LCD itu sendiri, atau setidaknya membuat proses manufaktur panel menjadi sangat sulit dan rawan cacat (yield rate rendah).
Meskipun teknologi ini bekerja, performanya tidak secepat dan seakurat pemindai sidik jari optik yang digunakan di layar OLED. Proses pembacaan sidik jari melalui tumpukan optik yang tebal memerlukan waktu pemrosesan yang sedikit lebih lama dan lebih sensitif terhadap kondisi lingkungan seperti debu atau minyak pada layar.
Awalnya, ide ini bertujuan untuk memotong biaya dibandingkan penggunaan OLED. Namun, kompleksitas dalam memproduksi panel LCD yang dimodifikasi dengan presisi tinggi (memotong atau menipiskan lapisan tertentu) ternyata memerlukan biaya produksi yang signifikan. Pada saat yang sama, harga panel OLED kelas menengah mulai menurun drastis.
Inilah pukulan terberat bagi teknologi Sidik Jari LCD. Sekitar tahun 2021, panel OLED menjadi jauh lebih terjangkau. Bahkan ponsel kelas menengah yang sebelumnya didominasi LCD beralih ke OLED (misalnya, lini Redmi Note Pro saat ini). Ketika biaya OLED turun, alasan utama eksistensi IDFP LCD—yaitu sebagai alternatif murah—seketika hilang.
Teknologi ini sebagian besar didorong oleh Tianma. Untuk menjadi standar industri, teknologi harus dapat diproduksi secara massal oleh berbagai pabrikan besar (seperti BOE, Samsung Display, atau AUO). Karena kompleksitas dan kebutuhan modifikasi khusus, teknologi ini sulit untuk diskalakan dan diadopsi secara luas di seluruh rantai pasokan global.
Dengan kata lain, inovasi ini hadir di waktu yang salah. Ketika Redmi Note 8 Pro mencoba mempopulerkannya, pasar sudah bergerak sangat cepat menuju standar OLED yang lebih superior dan akhirnya lebih murah untuk diproduksi dalam volume besar.
Baca Juga :
Mengapa Fokus Kembali ke Pemindai Fisik Adalah Pilihan Logis
Setelah eksperimen singkat dengan teknologi Sidik Jari LCD, banyak produsen ponsel kelas menengah kembali mengandalkan solusi yang terbukti efektif dan sangat cepat: pemindai sidik jari fisik di samping bodi (terintegrasi dengan tombol daya).
Pemindai fisik (capacitive) menawarkan kecepatan yang luar biasa, akurasi yang tinggi, dan yang terpenting, biaya yang sangat rendah, jauh lebih rendah daripada sensor optik maupun ultrasonik di dalam layar.
Bagi produsen yang ingin menjaga harga tetap kompetitif tanpa mengorbankan pengalaman pengguna, pemindai sidik jari di samping adalah pilihan yang ideal. Hal ini menjelaskan mengapa saat ini, hanya ponsel premium dan beberapa ponsel kelas menengah atas yang masih menggunakan IDFP (OLED), sementara sisa pasar kembali ke solusi fisik yang andal.