“Kami melihat bukti bahwa inti dalam telah berhenti berputar dalam beberapa tahun terakhir dan mulai berbalik arah,” jelas para peneliti dalam laporannya. Ini menunjukkan adanya siklus yang berulang—di mana inti dalam berotasi lebih cepat dari permukaan selama beberapa periode, kemudian melambat, berhenti, dan berbalik arah secara periodik.
Baca Juga :
Bagaimana Para Ilmuwan Mendeteksi Fenomena Inti Bumi 2025 Ini?
Mengukur pergerakan inti yang berjarak 5.000 km di bawah kaki kita bukanlah tugas yang mudah. Para ilmuwan mengandalkan geofisika komputasi dan data yang dikumpulkan selama puluhan tahun.
Metode utama untuk mendeteksi Fenomena Inti Bumi 2025 ini adalah analisis gelombang seismik. Ketika gempa bumi terjadi, gelombang energi merambat melalui seluruh lapisan Bumi. Struktur material padat inti dalam mengubah kecepatan dan jalur gelombang tersebut.
Menggunakan Data Gempa Bumi
Para peneliti membandingkan data seismik dari gempa kembar (seismic doublets) yang terjadi di lokasi yang sama, tetapi pada waktu yang berbeda (misalnya, dekade 1990-an vs. 2010-an). Jika inti dalam telah berputar, jalur gelombang seismik akan sedikit berbeda seiring waktu.
Baca Juga :
Dari perbandingan ini, mereka dapat memvisualisasikan bagaimana inti dalam berputar lebih cepat dari permukaan pada tahun 1970-an, melambat dan mencapai stagnasi pada tahun 2009-2025, dan kini memulai fase rotasi terbalik (retrograde).
Fenomena ini diduga terjadi dengan siklus sekitar 60 hingga 70 tahun. Siklus sebelumnya diperkirakan terjadi pada awal tahun 1970-an. Dengan siklus ini, kita mungkin akan melihat kecepatan inti dalam kembali berputar searah dengan permukaan pada pertengahan tahun 2040-an.
5 Dampak Potensial Rotasi Inti Bumi Berbalik Arah
Meskipun inti dalam adalah struktur yang sangat terpisah dari permukaan Bumi, interaksi gravitasi dan elektromagnetik menjamin bahwa perubahannya akan terasa. Berikut adalah 5 dampak potensial dari Rotasi Inti Bumi Berbalik Arah yang sedang dikaji oleh para ilmuwan:
Baca Juga :
- Perubahan Panjang Hari yang Halus: Perubahan dalam momentum sudut inti dapat sedikit mempengaruhi kecepatan rotasi keseluruhan planet. Meskipun perubahannya sangat kecil (fraksi milidetik per hari), perubahan ini dapat diukur dengan jam atom presisi tinggi.
- Fluktuasi Medan Magnet: Rotasi inti dalam memengaruhi aliran cairan di inti luar. Karena inti luar bertanggung jawab atas medan magnet Bumi, perubahan rotasi dapat menyebabkan fluktuasi lokal pada medan magnet, meskipun bukan pembalikan kutub magnet secara instan.
- Korelasi dengan Permukaan: Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa siklus dekadal ini mungkin berkorelasi dengan perubahan yang diamati pada permukaan, seperti sedikit perubahan ketinggian permukaan laut dan fluktuasi suhu global.
- Pengaruh Terhadap Zona Seismik: Perubahan pada interaksi inti dapat memicu perubahan tekanan dan tegangan yang merambat naik melalui mantel, yang secara teoritis dapat memengaruhi aktivitas tektonik dan zona seismik tertentu.
- Mempengaruhi Ketinggian Air Tanah: Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara perubahan rotasi inti dalam dan fluktuasi kecil dalam gravitasi yang dapat memengaruhi distribusi massa air di permukaan, termasuk ketinggian air tanah.
Namun, para ahli menekankan bahwa tidak ada alasan untuk panik. Fenomena Inti Bumi 2025 ini adalah proses siklus alami, bukan tanda bencana yang akan datang. Dampaknya pada kehidupan sehari-hari manusia sangat minimal, bahkan tidak terasa.