Di sisi lain, merek off-road Fang Cheng Bao justru mencatatkan pertumbuhan yang sangat fenomenal. Merek ini tumbuh 190,2 persen dengan total penjualan mencapai 29.138 unit. Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran minat konsumen China ke arah kendaraan gaya hidup (lifestyle) dan hobi. Sementara itu, merek premium Denza harus rela terkoreksi 26,9 persen ke angka 11.250 unit. Merek ultra-mewah mereka, Yangwang, tumbuh 95,6 persen meskipun secara volume masih kecil, yakni hanya 264 unit.
Penurunan kinerja ini berbanding lurus dengan tekanan pada profitabilitas perusahaan. Sepanjang kuartal pertama 2026, laba bersih BYD merosot tajam hingga 55,4 persen secara tahunan menjadi 4,09 miliar yuan atau setara USD 599 juta. Faktor utama di balik jatuhnya laba ini adalah perang harga yang sangat agresif di pasar otomotif China. Banyak produsen terpaksa memangkas margin keuntungan demi mempertahankan pangsa pasar dari serbuan kompetitor baru.
Baca Juga :
Tantangan Biaya dan Persaingan Global
Selain perang harga, kenaikan biaya perangkat keras dan komponen juga menjadi beban tambahan bagi perusahaan. Meskipun BYD memiliki keunggulan dalam integrasi vertikal—di mana mereka memproduksi baterai sendiri—kenaikan harga bahan baku tetap berdampak pada neraca keuangan. Industri otomotif global saat ini memang sedang berada dalam fase transisi yang sulit, di mana efisiensi biaya menjadi kunci utama untuk bertahan hidup.
Persaingan dengan produsen mobil listrik lain, baik dari perusahaan teknologi seperti Xiaomi dan Huawei maupun pemain lama seperti Tesla, memaksa BYD untuk terus berinovasi. Mereka tidak hanya harus fokus pada volume, tetapi juga pada pengembangan teknologi otonom dan perangkat lunak yang kini menjadi nilai jual utama bagi konsumen modern. Inovasi inilah yang diharapkan dapat mendongkrak kembali penjualan mobil listrik BYD di masa depan.
Analis industri memperkirakan bahwa tahun 2026 akan menjadi tahun konsolidasi bagi banyak produsen otomotif di China. Perusahaan yang memiliki cadangan kas kuat dan jaringan distribusi global yang luas seperti BYD diprediksi akan tetap memimpin pasar, meskipun harus melewati periode pertumbuhan yang melambat di dalam negeri. Fokus pada pasar negara berkembang dan pembangunan pabrik lokal di luar negeri menjadi langkah strategis untuk menghindari hambatan tarif perdagangan.
Baca Juga :
Dengan segala dinamika yang terjadi, langkah perusahaan dalam memperkuat sektor logistik dan pengiriman internasional akan sangat krusial. Jika target ekspor 1,5 juta unit tercapai, maka ketergantungan terhadap pasar domestik akan berkurang secara signifikan. Hal ini akan memberikan ruang bagi perusahaan untuk bernapas dan mengatur ulang strategi harga di China tanpa harus mengorbankan margin keuntungan secara berlebihan.
Sebagai penutup, meski menghadapi kontraksi tahunan yang cukup panjang, BYD tetap menunjukkan taji sebagai pemimpin industri melalui dominasi di pasar ekspor. Keberhasilan mencetak rekor penjualan luar negeri memberikan sinyal positif bahwa produk mereka memiliki daya saing global yang tinggi. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga konsistensi penjualan mobil listrik BYD agar tetap stabil di tengah ketidakpastian ekonomi global dan persaingan teknologi yang semakin sengit.