Yannes mengingatkan bahwa kesuksesan sebuah kendaraan niaga di Indonesia sangat bergantung pada kemudahan perawatan. Selama puluhan tahun, pasar Indonesia telah terbiasa dengan kendaraan merek Jepang yang memiliki jaringan servis hingga ke tingkat kecamatan. Jika pikap India ini masuk tanpa persiapan jaringan yang setara, maka risiko impor pikap India akan berujung pada lumpuhnya distribusi pangan nasional akibat banyaknya unit yang tidak bisa beroperasi.
Strategi pengadaan ini memang memberikan penghematan biaya modal (CAPEX) sekitar 20 hingga 50 persen berkat skema kerja sama perdagangan ASEAN-India Free Trade Area (AIFTA). Secara korporasi, hal ini merupakan prestasi bagi direksi Agrinas dalam mengejar target swasembada pangan. Namun, prestasi di atas kertas tersebut harus dibarengi dengan realitas lapangan yang menuntut ketahanan mesin terhadap bahan bakar lokal.
Baca Juga :
Pemerintah dan pihak terkait disarankan untuk melakukan uji coba mendalam (road test) menggunakan Biodiesel B40 sebelum melakukan impor secara massal. Penyesuaian pada sistem filter bahan bakar, penggunaan pelapis khusus pada komponen yang bersentuhan dengan biodiesel, serta pemetaan jaringan servis harus menjadi prioritas utama. Langkah preventif ini sangat penting untuk memastikan bahwa investasi besar ini benar-benar memberikan manfaat nyata bagi petani dan masyarakat desa.
Pada akhirnya, kebijakan ini harus dilihat secara holistik antara keuntungan ekonomi jangka pendek dan keberlanjutan operasional jangka panjang. Tanpa adanya adaptasi teknologi yang sesuai dengan karakteristik bahan bakar domestik, risiko impor pikap India tetap akan menjadi ancaman nyata bagi efisiensi distribusi logistik nasional di masa depan.