Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
Bahaya Mencampur Jenis BBM: Mesin Bisa Jebol dan Biaya Mahal
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Bahaya Mencampur Jenis BBM: Mesin Bisa Jebol dan Biaya Mahal

Ana Octarin
Ana OctarinTim Redaksi beta.technonesia.id
Selasa, 21 April 2026 - 22:55 WIB
Bahaya Mencampur Jenis BBM: Mesin Bisa Jebol dan Biaya Mahal

Bahaya Mencampur Jenis BBM

Sumber Foto :www.medcom.id
Thumb 1
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Technonesia - Bahaya mencampur jenis BBM kini menjadi ancaman nyata bagi para pemilik kendaraan yang mencoba menyiasati lonjakan harga bahan bakar nonsubsidi. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum mereda berdampak langsung pada fluktuasi harga energi global, termasuk di Indonesia. Kondisi ini memicu sebagian pengguna mobil untuk melakukan eksperimen berisiko dengan menggonta-ganti atau mencampur bahan bakar demi menekan pengeluaran harian.

Namun, langkah penghematan semu ini justru menyimpan bom waktu yang siap menghancurkan komponen internal kendaraan Anda. Pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu, memberikan peringatan keras mengenai tren negatif ini. Menurutnya, tindakan tersebut tidak hanya menurunkan performa, tetapi juga mengancam keawetan mesin dalam jangka panjang.

Penggunaan bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah dari rekomendasi pabrikan memiliki korelasi langsung terhadap efisiensi pembakaran. Ketika mesin dipaksa bekerja dengan bahan bakar yang tidak sesuai spesifikasi, sistem manajemen mesin akan kesulitan menyesuaikan waktu pengapian secara optimal.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Mengenal Bahaya Mencampur Jenis BBM pada Mesin Modern

Memahami bahaya mencampur jenis BBM sangat penting, terutama bagi pemilik mobil keluaran terbaru. Yannes menjelaskan bahwa risiko utama dari penggunaan oktan rendah adalah suhu mesin yang meningkat drastis atau overheat. "Tenaga mesin akan drop secara signifikan, dan yang ironis, konsumsi bahan bakar justru menjadi lebih boros karena mesin bekerja ekstra keras," ungkap Yannes saat dihubungi awak media.

Dalam kurun waktu pemakaian 10.000 hingga 20.000 kilometer, dampak buruk mulai terlihat secara fisik. Deposit karbon atau kerak hitam akan menumpuk di ruang bakar serta area injektor. Penumpukan residu ini mengakibatkan mesin terasa kasar saat posisi diam (idle), akselerasi yang tersendat-sendat (brebet), serta peningkatan emisi gas buang yang mencemari lingkungan.

Banyak pemilik kendaraan tidak menyadari bahwa bahaya mencampur jenis BBM dapat merusak komponen internal secara permanen. Mobil dengan teknologi induksi paksa seperti turbocharger atau kendaraan dengan rasio kompresi tinggi sangat rentan terhadap fenomena ini. Komponen seperti ring piston bisa mengalami keausan dini atau bahkan pecah jika terus-menerus dipaksa menahan ledakan pembakaran yang tidak stabil.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Mengapa Mencampur Pertamax dan Pertalite Sangat Berisiko?

Praktik yang sering ditemukan di lapangan adalah mencampur bahan bakar oktan tinggi seperti Pertamax Turbo dengan varian di bawahnya seperti Pertamax biasa atau Pertalite. Banyak yang beranggapan bahwa mencampur keduanya akan menghasilkan angka oktan "tengah-tengah" dengan harga lebih murah. Padahal, asumsi ini sepenuhnya keliru dan berbahaya dari sisi teknis kimiawi.

Yannes menegaskan bahwa setiap jenis bahan bakar memiliki formulasi kimia yang spesifik. "Kami sangat tidak menyarankan mencampur Pertamax Turbo dengan bensin biasa. Kedua jenis ini memiliki komposisi aditif, tingkat densitas (massa jenis), serta karakteristik pembakaran yang jauh berbeda," jelasnya. Ketidaksamaan karakteristik ini membuat proses homogenisasi di dalam tangki tidak akan pernah sempurna.

TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved