Technonesia - Permintaan mobil listrik melonjak secara signifikan di kawasan Asia Tenggara sebagai respons spontan terhadap ketidakpastian harga minyak mentah global. Ketegangan geopolitik yang memanas di Timur Tengah memicu kekhawatiran masyarakat akan keberlanjutan biaya hidup, terutama sektor transportasi. Kondisi ini memaksa konsumen untuk segera mencari alternatif kendaraan yang lebih ekonomis dan tidak bergantung pada bahan bakar fosil.
Di Manila, Filipina, antusiasme masyarakat terhadap teknologi bertenaga baterai terlihat sangat kontras di berbagai dealer resmi. Matthew Dominique Poh, seorang tenaga penjual di dealer BYD, mengungkapkan bahwa volume pesanan mengalami anomali positif dalam waktu singkat. Hanya dalam kurun waktu dua minggu terakhir, jumlah unit yang dipesan pelanggan sudah menyamai total target penjualan satu bulan penuh.
Poh menjelaskan bahwa mayoritas konsumen datang dengan alasan yang seragam, yaitu menghindari jeratan harga bensin yang terus merangkak naik. Fenomena ini membuktikan bahwa faktor ekonomi menjadi pendorong utama yang membuat permintaan mobil listrik melonjak di pasar Filipina. Konsumen kini tidak lagi melihat kendaraan listrik hanya sebagai gaya hidup, melainkan sebagai kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas finansial rumah tangga.
Faktor Utama Permintaan Mobil Listrik Melonjak di Asia
Bergeser ke Vietnam, produsen otomotif lokal VinFast juga memanen hasil dari pergeseran perilaku konsumen ini. Dealer-dealer VinFast di Hanoi melaporkan lonjakan kunjungan calon pembeli hingga empat kali lipat sejak eskalasi konflik di Iran mencuat. Dalam periode tiga minggu terakhir, angka penjualan menembus 250 unit, yang berarti rata-rata terjual lebih dari 80 unit per pekan.
Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan dua kali lipat jika kita bandingkan dengan rata-rata penjualan mingguan pada awal tahun 2025. Salah satu konsumen, Lai The Manh Linh, membagikan pengalamannya saat memutuskan menjual Toyota Vios miliknya untuk beralih ke VinFast VF 5. Dengan jarak tempuh harian mencapai 60 hingga 70 kilometer, ia menghitung bahwa penggunaan listrik jauh lebih murah daripada bensin.
Keputusan Linh merupakan representasi dari ribuan pengemudi lain yang mulai menyadari bahwa permintaan mobil listrik melonjak karena adanya efisiensi biaya energi yang nyata. Penghematan biaya operasional bulanan menjadi daya tarik yang sulit ditolak di tengah ancaman inflasi energi global. VF 5 yang ia pilih dianggap sebagai solusi paling rasional untuk mobilitas perkotaan yang padat dan mahal.
Thailand pun tidak ketinggalan dalam tren transisi energi ini. Dealer MG di bawah naungan SAIC Motor mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 20% sejak konflik di Timur Tengah memanas. Thailand memang telah lama memposisikan diri sebagai hub produksi kendaraan listrik di Asia Tenggara, sehingga infrastruktur pendukung yang lebih siap membuat masyarakat lebih percaya diri untuk beralih.