Technonesia - Game PlayStation yang akan dimatikan secara resmi oleh pihak pengembang dan Sony Interactive Entertainment (SIE) kini menjadi sorotan tajam para komunitas gamer di seluruh dunia. Keputusan ini mencakup penghentian layanan server hingga penghapusan akses pembelian di toko digital PlayStation Store yang dijadwalkan rampung pada 1 Juni 2026. Langkah ini menambah daftar panjang fenomena "kematian" gim digital yang kerap menghantui para kolektor konten non-fisik.
Rencana penutupan ini tidak hanya menyasar satu genre saja, melainkan mencakup berbagai judul populer mulai dari simulasi pinball hingga gim tembak-menembak berskala besar. Bagi para pengguna konsol PS4 dan PS5, pengumuman ini menjadi peringatan dini untuk segera menyelesaikan misi atau mengamankan konten tambahan sebelum aksesnya hilang selamanya dari ekosistem PlayStation Network.
Nama besar lainnya yang masuk dalam daftar game PlayStation yang akan dimatikan adalah Battlefield Hardline. Seri Battlefield yang mengambil tema polisi versus kriminal ini dijadwalkan akan ditarik dari peredaran toko digital pada 22 Mei 2026. Tepat satu bulan setelahnya, yakni pada 22 Juni 2026, Electronic Arts (EA) akan mematikan server multipemain secara total, yang berarti fitur utama gim ini tidak akan bisa lagi dimainkan.
Sektor balap arkade pun tidak luput dari pembersihan ini. Horizon Chase Turbo, gim balap yang terinspirasi dari era klasik 90-an, akan ditarik dari PlayStation Store pada 1 Juni 2026. Penghapusan ini mencakup seluruh paket ekspansi, termasuk konten Senna Forever yang sangat diminati oleh penggemar balap. Keputusan pahit ini kabarnya merupakan imbas dari restrukturisasi dan pengurangan staf yang terjadi di Epic Games, sebagai perusahaan induk pengembang gim tersebut.
Meskipun Horizon Chase Turbo menghilang, pengembang mengarahkan pemain untuk beralih ke sekuel terbarunya, Horizon Chase 2. Namun, bagi para purist dan kolektor, hilangnya judul pertama dari toko digital tetap menjadi kerugian besar, terutama bagi mereka yang belum sempat melengkapi koleksi DLC mereka.
Isu Kepemilikan Digital di Era Konsol Modern
Fenomena banyaknya game PlayStation yang akan dimatikan ini kembali memicu perdebatan mengenai hak milik konsumen atas produk digital. Berbeda dengan kaset fisik yang tetap bisa dimainkan selama mesin konsol berfungsi, gim digital sangat bergantung pada lisensi dan keberadaan server perusahaan. Ketika sebuah perusahaan memutuskan untuk menghentikan dukungan, konsumen sering kali kehilangan akses terhadap produk yang telah mereka bayar secara penuh.
Para pakar industri menilai bahwa biaya pemeliharaan server dan kedaluwarsanya lisensi musik atau merek dagang menjadi alasan utama di balik keputusan ini. Namun, bagi gamer, ini adalah pengingat bahwa perpustakaan digital mereka bersifat sementara. Tren ini mendorong sebagian komunitas untuk kembali mengoleksi rilisan fisik sebagai bentuk proteksi terhadap investasi hobi mereka di masa depan.