Meskipun persentase pemasangan proteksi di Indonesia masih lebih baik daripada rata-rata global yang hanya 33%, para pakar keamanan siber tetap memberikan peringatan keras. Marina Titova, Wakil Presiden Bisnis Konsumen di Kaspersky, menjelaskan bahwa penambahan gawai baru dan durasi online yang meningkat secara otomatis memperluas wilayah serangan. Oleh karena itu, pendekatan keamanan multi-perangkat yang terintegrasi menjadi solusi mutlak yang tidak boleh ditawar lagi.
Perlindungan komprehensif ini sangat penting karena setiap anggota keluarga memiliki tingkat adaptasi teknologi yang berbeda-beda. Anak-anak yang aktif bermain game online sering kali tidak sengaja mengunduh file berbahaya yang mengandung virus. Di sisi lain, orang tua yang kurang familier dengan fitur keamanan modern rentan menjadi korban penipuan transfer uang.
Baca Juga :
Melindungi Generasi Rentan dari Ancaman Siber
Studi Kaspersky juga menyoroti bahwa kelompok usia di atas 55 tahun cenderung kurang aktif dalam mengelola sistem keamanan digital keluarga secara mandiri. Mereka sering kali merasa kesulitan mengikuti perkembangan teknologi yang berubah begitu cepat setiap waktu. Oleh sebab itu, generasi muda yang lebih melek digital harus mengambil peran aktif untuk membantu mengamankan perangkat milik orang tua mereka.
Meskipun masih ada beberapa celah, Indonesia mencatatkan pencapaian yang cukup membanggakan dalam hal kesadaran preventif secara menyeluruh. Hanya ada sekitar 4% responden di tanah air yang mengaku tidak mengambil tindakan perlindungan sama sekali terhadap perangkat mereka. Angka ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan rata-rata global yang menyentuh angka 10%.
Langkah positif ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan ke arah tindakan proteksi yang lebih masif dan terstruktur. Mengandalkan pemahaman verbal saja tidak akan cukup untuk menahan serangan malware yang semakin canggih dan agresif. Mulai sekarang, setiap keluarga harus mulai menerapkan proteksi berlapis pada