Dari sisi estetika, Vivo melakukan perombakan besar pada desain bodi. Penggunaan material metal dan kaca premium memberikan kesan kokoh saat digenggam. Desain ini secara langsung meningkatkan kepercayaan diri pengguna yang menginginkan ponsel dengan tampilan mewah namun tetap fungsional untuk mobilitas sehari-hari.
Baca Juga :
Menyasar Segmen Pekerja Profesional
Melalui lini V Series, Vivo secara spesifik membidik kelompok pekerja profesional atau sering disebut sebagai kaum white collar. Kelompok ini dianggap memiliki kebutuhan yang spesifik, yakni perangkat yang mampu menyeimbangkan antara produktivitas kerja dan gaya hidup digital yang aktif. Ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi, melainkan asisten pribadi yang mendukung efisiensi kerja.
Fendy menjelaskan bahwa target pasar mereka mencakup posisi supervisor hingga manajer. Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Vivo menyematkan sistem operasi OriginOS yang dilengkapi fitur produktivitas seperti Drag & Go. Fitur ini mempermudah transfer file antar aplikasi hanya dengan satu sentuhan. Selain itu, Vivo Office Kit hadir untuk memastikan dokumen pekerjaan dapat diakses dan diedit dengan mudah di mana saja.
Selain varian standar, Vivo juga menghadirkan varian yang lebih terjangkau, yakni V70 FE. Varian ini ditujukan bagi pekerja muda atau first-jobber yang aktif di media sosial. Fokus utamanya adalah kemudahan dalam pembuatan konten digital, menjadikannya pilihan menarik bagi para kreator konten pemula yang membutuhkan kualitas video stabil dan jernih.
Baca Juga :
Analisis Pasar dan Posisi Vivo di Indonesia
Meskipun ekonomi global sedang menghadapi tantangan, minat masyarakat Indonesia terhadap smartphone dengan pengalaman flagship tetap menunjukkan tren positif. Banyak konsumen yang ingin merasakan teknologi terbaru namun terkendala oleh anggaran. Celah inilah yang berusaha diisi oleh Vivo V70 Series Indonesia dengan menawarkan harga yang lebih bersahabat.
Namun, perjalanan Vivo untuk mendominasi pasar tidaklah mudah. Berdasarkan data dari lembaga riset independen, peringkat Vivo di pasar smartphone Indonesia masih berada di bawah beberapa kompetitor utamanya. Laporan Canalys untuk kuartal I/2025 menunjukkan Xiaomi masih memimpin pasar dengan pangsa 19,5%, disusul oleh Transsion (Infinix, Tecno, Itel) sebesar 17,4%.
Data dari Counterpoint untuk kuartal III/2025 juga memperlihatkan posisi serupa. Samsung memimpin di posisi puncak dengan pangsa pasar sekitar 20%. Vivo tercatat berada di jajaran bawah lima besar, bersaing ketat dengan Infinix. Analis menilai Vivo perlu lebih agresif dalam strategi pemasaran dan distribusi untuk mengejar ketertinggalan dari Samsung dan Xiaomi yang sangat dominan di berbagai segmen harga.
Baca Juga :
Ke depan, Vivo berkomitmen untuk terus fokus pada pengembangan dua pilar utama, yaitu inovasi kamera dan desain yang ikonis. Kedua aspek ini telah menjadi identitas kuat bagi lini V Series selama bertahun-tahun. Dengan konsistensi dalam menghadirkan fitur "flagship-feel", Vivo optimis dapat meningkatkan pangsa pasarnya di Indonesia dan memenangkan persaingan di kelas menengah yang sangat dinamis.