Ancaman Hukuman 50 Tahun Penjara dan Denda Sipil
Perilaku menyimpang karyawan Google judi online ini akhirnya tercium oleh sistem keamanan internal Polymarket yang mendeteksi adanya aktivitas perdagangan tidak wajar. Pihak Polymarket kemudian melaporkan temuan tersebut kepada aparat penegak hukum, yang berujung pada penangkapan Spagnuolo.
Kini, Spagnuolo harus menghadapi serangkaian tuntutan pidana berat dengan ancaman hukuman penjara maksimal hingga 50 tahun. Dalam persidangan awal di hadapan Hakim Magistrat AS Sarah Netburn, pengadilan memberikan penangguhan penahanan dengan jaminan fantastis sebesar US$2,25 juta atau sekitar Rp40,2 miliar. Pengacara Spagnuolo, Mike Ferrara, memilih bungkam dan menolak memberikan komentar kepada media terkait dakwaan kliennya.
Selain tuntutan pidana, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas (CFTC) juga melayangkan gugatan perdata terpisah. Lembaga regulator ini menuntut pengadilan untuk memaksa Spagnuolo melakukan hal-hal berikut:
Baca Juga :
- Mengembalikan seluruh keuntungan ilegal hasil taruhan di pasar prediksi.
- Membayar denda administratif sipil dalam jumlah yang signifikan.
- Menerima hukuman larangan berdagang dan registrasi di pasar berjangka selamanya.
Respons Google dan Fenomena Insider Trading di Pasar Prediksi
Pihak Google langsung mengambil tindakan tegas pasca-terbongkarnya skandal ini. Perwakilan Google menyatakan bahwa pelaku mengakses materi pemasaran menggunakan alat yang sebenarnya tersedia bagi seluruh karyawan. Namun, menyalahgunakan informasi sensitif tersebut untuk bertaruh di platform judi merupakan pelanggaran berat terhadap integritas dan kebijakan internal perusahaan. Saat ini, Google telah menonaktifkan karyawan tersebut dan sedang menyiapkan langkah hukum lanjutan.
Kasus yang menyeret karyawan Google judi online ini bukanlah kejadian pertama yang melibatkan penyalahgunaan informasi sensitif di platform pasar prediksi. Sebelumnya, seorang sersan utama Pasukan Khusus Angkatan Darat Amerika Serikat bernama Gannon Ken Van Dyke juga tersandung kasus serupa. Ia menggunakan intelijen militer rahasia untuk bertaruh pada kontrak penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, dan meraup untung Rp7,3 miliar.
Rentetan skandal ini memicu penyelidikan mendalam oleh Kongres Amerika Serikat terhadap platform pasar prediksi seperti Polymarket dan pesaingnya, Kalshi. Para senator kini tengah menggodok lebih dari 10 rancangan undang-undang baru untuk memperketat regulasi dan mencegah praktik perdagangan orang dalam (insider trading) yang kian marak di dunia digital.
Baca Juga :
Skandal besar ini menjadi peringatan keras bagi perusahaan teknologi raksasa lainnya tentang betapa besarnya risiko kebocoran data internal yang melibatkan karyawan Google judi online maupun pelaku industri digital lainnya. Diperlukan sistem pengawasan yang jauh lebih ketat agar informasi sensitif tidak disalahgunakan menjadi komoditas perjudian ilegal di masa mendatang.