Bobol AI Grok Elon Musk menjadi perbincangan hangat di jagat maya setelah seorang peretas yang teridentifikasi berasal dari Indonesia diduga sukses menembus pertahanan chatbot canggih tersebut. Aksi nekat ini tidak hanya mencoreng reputasi sistem keamanan kecerdasan buatan milik xAI, tetapi juga mengakibatkan kerugian aset digital yang sangat besar. Pelaku dilaporkan berhasil menguras saldo kripto senilai US$ 200.000 atau setara dengan Rp 3,4 miliar melalui sebuah manipulasi instruksi yang sangat rapi.
Kabar mengenai eksploitasi ini pertama kali mencuat di komunitas kripto global dan platform media sosial X. Pelaku memanfaatkan celah keamanan pada interaksi antara Grok dan Bankrbot, sebuah sistem AI yang memiliki otorisasi khusus untuk mengelola dompet digital di jaringan Base. Dengan kecerdikan teknis yang tinggi, sang peretas mampu mengelabui logika berpikir AI sehingga sistem tersebut mengeksekusi perintah pengiriman aset ke alamat dompet pribadi milik pelaku tanpa kecurigaan sedikit pun.
Menguak Rahasia di Balik Aksi Bobol AI Grok Elon Musk
Metode yang digunakan dalam insiden Bobol AI Grok Elon Musk ini tergolong sangat unik dan belum pernah terjadi sebelumnya. Berdasarkan laporan dari berbagai sumber teknis, pelaku tidak menggunakan serangan brute force konvensional, melainkan teknik social engineering terhadap mesin. Pelaku mengirimkan serangkaian instruksi tersembunyi yang disusun dalam bentuk kode Morse kepada chatbot Grok. Penggunaan kode Morse ini diduga bertujuan untuk melewati filter keamanan teks standar yang biasanya memblokir perintah-perintah mencurigakan.
Baca Juga :
Setelah Grok menerima pesan dalam kode Morse tersebut, AI menerjemahkannya sebagai perintah operasional yang valid. Pesan hasil terjemahan itu kemudian diteruskan ke Bankrbot, yang bertindak sebagai eksekutor transaksi. Bankrbot, yang menganggap instruksi tersebut datang dari sumber resmi yang terverifikasi, langsung memproses pemindahan aset dalam skala besar. Keberhasilan Bobol AI Grok Elon Musk ini menunjukkan adanya kerentanan serius pada bagaimana AI memproses input non-standar.
Sebelum melancarkan serangan utama, pelaku telah menyiapkan strategi matang dengan mengirimkan NFT Bankr Club Membership ke alamat wallet yang dikelola oleh Grok. Langkah ini bukan tanpa alasan, karena kepemilikan NFT tersebut memberikan izin akses yang lebih luas di dalam ekosistem Bankr. Dengan hak akses yang meningkat, Grok memiliki wewenang untuk melakukan transfer aset dan pertukaran token (swap) secara otomatis. Inilah yang menjadi pintu masuk utama bagi pelaku untuk menguras isi dompet digital tersebut.
Kronologi Pengurasan Aset di Jaringan Base
Begitu akses tingkat tinggi berhasil didapatkan, pelaku memerintahkan Grok untuk menerjemahkan kode Morse yang berisi instruksi spesifik. Instruksi tersebut memerintahkan sistem untuk mengirimkan 3 miliar token DRB ke alamat dompet tertentu yang telah disiapkan. Karena sistem menganggap perintah tersebut sah, transaksi di jaringan Base—solusi Layer 2 dari Coinbase—berjalan mulus tanpa hambatan. Seluruh token DRB pun berpindah tangan dalam hitungan detik, menandai kesuksesan aksi Bobol AI Grok Elon Musk tersebut.