TRENDING :
Belum ada berita.
Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Ana Octarin
Ana OctarinTim Redaksi beta.technonesia.id
Jumat, 08 Mei 2026 - 21:55 WIB
Jejak Gempa Besar Gunung Ciremai Ditemukan Peneliti BRIN

Jejak gempa besar Gunung Ciremai

Sumber Foto :www.cnbcindonesia.com
Thumb 1
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Jejak gempa besar Gunung Ciremai kini menjadi sorotan serius setelah para peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti deformasi tanah yang ekstrem. Fenomena unik berupa kondisi tanah yang terbalik di wilayah Kuningan, Jawa Barat, mengindikasikan adanya aktivitas tektonik hebat di masa lampau. Penemuan ini merupakan hasil kerja keras tim Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN yang melakukan pemetaan mendalam di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat tersebut.

Ketua tim penelitian, Sonny Aribowo, menjelaskan bahwa penemuan jejak gempa besar Gunung Ciremai ini berasal dari analisis geokronologi dan pemetaan teknologi LiDAR (Light Detection and Ranging). Tim memfokuskan riset pada endapan distal atau endapan material yang posisinya jauh dari pusat erupsi. Melalui metode ini, para ahli ingin membedah sejarah aktivitas tektonik yang pernah mengganggu lapisan tanah di sekitar Gunung Ciremai selama puluhan ribu tahun terakhir.

Analisis Karbon dan Fenomena Tanah Terbalik

Peneliti menggunakan metode penanggalan karbon (carbon dating) pada jalur Lingkar Timur Kuningan untuk menentukan umur lapisan tanah secara akurat. Hasilnya sangat mengejutkan bagi dunia geologi. Tim menemukan lapisan tanah berumur 22.000 tahun berada tepat di atas lapisan yang justru lebih muda, yakni berusia 20.000 tahun. Kondisi "tanah terbalik" ini menjadi bukti tak terbantahkan mengenai keberadaan sesar naik di kawasan tersebut.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Secara mekanis, sesar naik menyebabkan lapisan batuan yang lebih tua terdorong kuat ke atas, sehingga menutupi lapisan yang lebih muda. Aktivitas geologi ini diperkirakan terjadi setelah periode 20.000 tahun yang lalu. Penemuan jejak gempa besar Gunung Ciremai ini memberikan gambaran betapa kuatnya tekanan tektonik yang pernah menghantam wilayah Kuningan di masa prasejarah, yang kemungkinan besar memicu guncangan dahsyat.

Selain sesar naik, tim peneliti juga mengidentifikasi adanya jejak sesar normal pada endapan tanah yang berusia sekitar 16.000 tahun. Sesar normal ini biasanya muncul sebagai fase penyeimbangan atau relaksasi sedimen setelah wilayah tersebut menerima tekanan tektonik yang masif. Kehadiran dua jenis sesar ini semakin memperkuat indikasi bahwa telah terjadi rangkaian peristiwa gempa bumi berkekuatan besar pada periode tersebut.

Teknologi LiDAR Mengungkap Rahasia di Balik Hutan

Penggunaan teknologi LiDAR menjadi kunci keberhasilan dalam mengungkap jejak gempa besar Gunung Ciremai. Teknologi sensor laser ini mampu memetakan permukaan Bumi dengan sangat detail tanpa terhalang oleh lebatnya vegetasi atau hutan di lereng gunung. Tanpa LiDAR, fitur-fitur geologi seperti patahan (faulting) dan kemiringan lapisan tanah (tilting) akan sangat sulit terlihat secara kasat mata dari permukaan.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Data LiDAR menunjukkan adanya perubahan morfologi lahan yang signifikan di sekitar Kuningan. Beberapa fitur yang ditemukan meliputi:

  • Kemiringan lapisan tanah yang tidak wajar akibat dorongan energi dari dalam Bumi.
  • Garis patahan aktif yang memotong endapan vulkanik purba.
  • Perubahan struktur sungai dan lembah yang mengikuti jalur sesar.
Data ini memberikan pembaruan krusial terhadap kronologi erupsi dan sejarah kegempaan Gunung Ciremai yang selama ini belum terpetakan secara detail.

Perbedaan Karakteristik Magma dan Endapan

Riset BRIN ini juga berhasil memetakan perbedaan karakteristik antara endapan dekat (proksimal) dan endapan jauh (distal) dari puncak gunung. Endapan distal teridentifikasi sebagai sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin. Material ini memiliki ciri khas kandungan besi (Fe) yang tinggi namun rendah silika. Sebaliknya, area proksimal atau dekat puncak didominasi oleh batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K.

BERITA TERKAIT

Advertisement
Sponsor SLOT 20
Advertisement
Sponsor SLOT 20
Advertisement
Sponsor SLOT 20
TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved