Investor global, terutama dari Amerika dan Eropa, kini jauh lebih skeptis terhadap valuasi fantastis startup Asia. Mereka akan menuntut tingkat transparansi dan profitabilitas yang lebih tinggi sebelum menyuntikkan modal besar.
Untuk startup di Indonesia yang bergerak di sektor teknologi pendidikan, ini adalah saatnya untuk mengencangkan ikat pinggang. Mereka tidak hanya perlu menawarkan solusi pendidikan yang efektif, tetapi juga harus menunjukkan bukti bahwa model bisnis mereka dapat menghasilkan uang dan berkelanjutan tanpa bergantung pada putaran pendanaan yang tak terbatas.
Baca Juga :
Nasib CEO Byju Raveendran yang kini harus menghadapi tuntutan Rp17 triliun adalah simbol dari risiko besar yang dihadapi para pendiri ketika ambisi tidak diimbangi dengan manajemen risiko dan tata kelola yang baik. Kegagalan ini mengajarkan bahwa di dunia startup, angka nol selalu mengintai, sekecil atau sebesar apa pun valuasi puncaknya.