Pegasus tidak seperti virus biasa. Ia mampu mengekstrak semua data, termasuk pesan terenkripsi, foto, email, serta mengaktifkan mikrofon dan kamera ponsel tanpa sepengetahuan pemilik. NSO Group berulang kali menyatakan bahwa mereka hanya menjual Pegasus kepada pemerintah dan badan intelijen untuk memerangi terorisme dan kejahatan serius lainnya.
Namun, penyelidikan oleh konsorsium jurnalis global pada tahun 2021 membuktikan sebaliknya. Data yang bocor menunjukkan bahwa Pegasus telah digunakan untuk menargetkan lebih dari 50.000 nomor telepon di seluruh dunia. Penggunaan yang meluas ini menyebabkan NSO Group masuk dalam daftar hitam (entity list) perdagangan AS, yang sangat membatasi kemampuan bisnisnya.
3 Fakta Penting Dibalik Akuisisi NSO Pegasus oleh Hollywood
Perubahan kepemilikan ini jauh lebih dari sekadar transaksi bisnis biasa. Ini adalah sebuah peristiwa yang memiliki implikasi geopolitik dan keamanan siber yang signifikan. Berikut adalah 3 fakta krusial terkait Akuisisi NSO Pegasus:
Baca Juga :
-
1. Lepasnya Kontrol Strategis Israel:
NSO Group selalu dianggap sebagai aset strategis bagi Israel. Teknologi Pegasus merupakan bagian integral dari strategi pertahanan siber dan diplomasi teknologi Israel. Dengan berpindahnya kendali kepada investor AS, pengaruh langsung pemerintah Israel terhadap penggunaan teknologi mata-mata ini akan berkurang drastis. Ini bisa memengaruhi bagaimana Pegasus diizinkan untuk digunakan di masa depan, terutama terkait penjualan kepada sekutu Israel yang sensitif.
-
2. Uang Hollywood Masuk ke Bisnis Kontroversial:
Keterlibatan Produser Hollywood Beli NSO menunjukkan bahwa meskipun NSO memiliki reputasi buruk, nilai teknologinya masih sangat tinggi. Bagi para investor, akuisisi ini mungkin dilihat sebagai peluang bisnis 'murah' untuk mendapatkan teknologi siber canggih yang kemudian dapat direstrukturisasi dan dijual kembali dengan harga premium di masa depan. Fokus kelompok Simonds kemungkinan besar adalah pada pemulihan finansial dan restrukturisasi operasional.
-
3. Implikasi bagi Indonesia dan Asia Tenggara:
Meskipun NSO Group jarang mengumumkan kliennya, jejak Pegasus telah terdeteksi di berbagai negara di Asia, termasuk yang memiliki potensi terkait Indonesia (RI). Ketika kepemilikan berpindah ke AS, kontrol ekspor teknologi ini bisa menjadi lebih ketat, terutama di bawah regulasi AS yang lebih keras (mengingat NSO masih di daftar hitam). Hal ini dapat memengaruhi badan intelijen atau keamanan di kawasan yang mungkin sebelumnya memiliki akses ke alat mata-mata ini, memaksa mereka mencari alternatif lain.
Masa Depan Teknologi Mata-Mata Israel di Bawah Kendali AS
Langkah Akuisisi NSO Pegasus oleh grup investor AS ini mungkin merupakan babak baru bagi perusahaan tersebut. Fokus utama manajemen baru kemungkinan besar adalah meyakinkan regulator, khususnya di AS, bahwa mereka dapat menjamin penggunaan Pegasus hanya untuk tujuan yang sah, jauh dari penyalahgunaan politik atau pengawasan massal.