TRENDING :
Belum ada berita.
Advertisement
Sponsor SLOT 01
Scroll Untuk Lanjut Membaca ↓
Technonesia
7 Tanda Kiamat di Nasi dan Susu: Kontaminasi Bakteri Mengancam Pangan
Advertisement
Sponsor SLOT 16

7 Tanda Kiamat di Nasi dan Susu: Kontaminasi Bakteri Mengancam Pangan

Olin Sianturi
Olin SianturiTim Redaksi beta.technonesia.id
Jumat, 10 Oktober 2025 - 18:08 WIB
7 Tanda Kiamat di Nasi dan Susu: Kontaminasi Bakteri Mengancam Pangan

7 Tanda Kiamat di Nasi dan Susu: Kontaminasi Bakteri Mengancam Pangan

Sumber Foto :Istimewa
Thumb 1
Advertisement
Sponsor SLOT 16

Waspada, dampak perubahan iklim pangan kini terlihat pada nasi dan susu kita. Suhu global naik, risiko kontaminasi bakteri nasi susu mematikan meningkat drastis!

Isu perubahan iklim seringkali terdengar seperti ancaman masa depan yang jauh. Namun, para ahli kini memperingatkan bahwa "tanda kiamat" tersebut sudah hadir di meja makan kita, tepatnya pada makanan pokok yang kita konsumsi sehari-hari: nasi dan susu.

Kenaikan suhu global bukan hanya menyebabkan banjir atau kekeringan, tapi juga secara langsung merusak rantai pasokan dan keamanan pangan. Makanan yang seharusnya menjadi sumber nutrisi kini berpotensi menjadi pembawa penyakit mematikan.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Bagaimana perubahan iklim yang terjadi di atmosfer bisa mempengaruhi sepiring nasi atau segelas susu? Dan apa yang bisa kita lakukan untuk melindungi diri dan keluarga dari ancaman serius ini?

Memahami Ancaman "Tanda Kiamat" pada Pangan Kita

Istilah "tanda kiamat" yang digunakan dalam konteks ini mengacu pada kerentanan sistemik yang diciptakan oleh krisis iklim. Ketika suhu bumi terus memanas, lingkungan menjadi sangat ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme berbahaya, terutama bakteri dan jamur.

Makanan pokok dan produk susu, yang memiliki kandungan air tinggi dan nutrisi, menjadi target utama. Kontaminasi yang terjadi tidak hanya merusak kualitas makanan, tetapi juga mengancam kesehatan publik secara masif, mulai dari keracunan ringan hingga kasus fatal.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Ancaman ini bukan lagi teori. Sebuah studi kasus dari India menunjukkan bagaimana Sumitra Sutar, seorang wanita tua dari Maharashtra, menjadi korban dari ancaman yang muncul dari nasi sisa. Kondisi ini menyoroti bahwa kebiasaan menyimpan dan mengonsumsi makanan sisa yang dulu aman, kini menjadi jauh lebih berisiko.

Dampak Perubahan Iklim Pangan: Mengapa Nasi dan Susu Jadi Korban Utama?

Kita perlu memahami secara mendalam dampak perubahan iklim pangan. Mekanisme utamanya sederhana: panas adalah katalisator pertumbuhan mikroba. Ketika suhu lingkungan meningkat, "zona bahaya" suhu (antara 4°C hingga 60°C) menjadi lebih mudah tercapai dan dipertahankan dalam waktu yang lama.

Di wilayah tropis seperti Indonesia, kenaikan suhu global memperburuk kondisi ini. Makanan yang dimasak dan dibiarkan di suhu ruangan akan lebih cepat membusuk dan terkontaminasi.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

Ancaman Bacillus Cereus pada Nasi Sisa

Nasi, terutama nasi sisa yang didinginkan, sangat rentan terhadap spora bakteri bernama Bacillus Cereus. Bakteri ini tidak mati hanya dengan proses memasak biasa.

Ketika nasi dimasak, spora bakteri bisa bertahan hidup. Jika nasi dibiarkan mendingin perlahan di suhu kamar, spora tersebut akan berubah menjadi sel bakteri aktif dan mulai memproduksi racun. Gejala keracunan Bacillus Cereus termasuk mual, muntah, dan diare parah.

Kisah Sumitra Sutar, yang biasa mengonsumsi nasi dan kari lentil sisa, adalah contoh nyata. Lingkungan yang lebih panas membuat waktu aman penyimpanan nasi sisa menjadi sangat singkat, meningkatkan risiko ia terpapar racun dari Bacillus Cereus.

Advertisement
Sponsor SLOT 17

BERITA TERKAIT

Advertisement
Sponsor SLOT 20
Advertisement
Sponsor SLOT 20
Advertisement
Sponsor SLOT 20
TECHNONESIA

KATEGORI

INSIDE TECHNONESIA

Terhubung Dengan Kami :

PT. JOTECH INOVASI MANDIRI @ 2026 | All Rights Reserved