Teknik malware Zombie ZIP kini menjadi perbincangan hangat di kalangan praktisi keamanan siber setelah para peneliti menemukan metode cerdik untuk menyembunyikan kode berbahaya. Metode ini memanfaatkan file ZIP yang sengaja dibuat rusak (corrupted) agar tidak terdeteksi oleh sistem pemindaian keamanan. Penemuan ini menjadi sinyal merah bagi pengguna internet karena peretas memiliki cara baru untuk mengirimkan payload tanpa memicu alarm dari perangkat lunak antivirus.
Para ahli keamanan menjelaskan bahwa ancaman ini bekerja dengan memanipulasi struktur dasar dari sebuah arsip digital. Secara teknis, setiap file ZIP memiliki komponen yang disebut sebagai header. Bagian ini menyimpan metadata krusial yang memberitahu sistem operasi atau aplikasi pengarsip mengenai isi file, mulai dari metode kompresi yang digunakan hingga informasi versi untuk ekstraksi data.
Dalam skema serangan ini, penyerang sengaja merusak bagian field metode kompresi pada header tersebut. Hasilnya, aplikasi pengarsip populer yang sering kita gunakan sehari-hari seperti 7-Zip atau WinRAR akan gagal mengenali format file tersebut. Alih-alih membukanya, aplikasi biasanya akan menampilkan pesan kesalahan bahwa file tersebut rusak atau tidak didukung.
Baca Juga :
Mengenal Cara Kerja Teknik Malware Zombie ZIP
Meskipun file tersebut terlihat rusak di mata aplikasi pengarsip standar, teknik malware Zombie ZIP sebenarnya tetap menyimpan data yang utuh di dalamnya. Peretas tetap menggunakan algoritma Deflate untuk mengompresi data berbahaya mereka. Sebagai informasi, Deflate adalah algoritma kompresi lossless legendaris yang dikembangkan oleh Phil Katz untuk perangkat lunak PKZIP pada tahun 1990-an dan masih menjadi standar industri hingga saat ini.
Manipulasi metadata inilah yang menjadi kunci utama mengapa serangan ini sangat efektif. Antivirus modern umumnya melakukan pemindaian cepat terhadap file terkompresi. Jika mesin pemindai melihat header yang rusak atau tidak konsisten, sistem cenderung menganggap file tersebut sebagai sampah digital yang tidak berbahaya atau sekadar data korup yang tidak bisa dieksekusi. Hal ini membuat malware tetap bersembunyi dengan aman di dalam arsip tanpa terendus radar keamanan.
Penyerang kemudian memanfaatkan alat khusus atau skrip tertentu yang mampu mengabaikan informasi salah pada header. Alat ini akan langsung membaca aliran data mentah (raw data stream) di dalam file dan mengekstrak payload berbahaya secara diam-diam. Dengan cara ini, serangan tetap berjalan mulus meskipun file tersebut tampak tidak bisa dibuka oleh pengguna awam.
Baca Juga :
Bahaya Nyata di Balik Celah CVE-2026-0866
Eksploitasi ini sekarang mendapatkan perhatian serius dengan kode pelacakan kerentanan CVE-2026-0866. Berdasarkan laporan terbaru, efektivitas metode ini sangat mengkhawatirkan. Dalam serangkaian pengujian melalui platform VirusTotal, teknik malware Zombie ZIP dilaporkan mampu meloloskan diri dari sekitar 98% mesin antivirus yang ada di pasar saat ini.
Bahkan, nama-nama besar di industri keamanan siber seperti Microsoft Defender, Kaspersky, hingga Bitdefender dikabarkan gagal menandai arsip yang telah dimanipulasi ini sebagai ancaman pada tahap awal pengujian. Hal ini menunjukkan adanya celah logika pada cara kerja mesin antivirus dalam menangani file yang mengalami kerusakan struktur header.