Potensi gempa megathrust Indonesia kini menjadi sorotan serius setelah para ilmuwan mendeteksi adanya 14 titik zona subduksi aktif di sekitar wilayah Nusantara. Kerawanan geografis ini menarik perhatian Profesor Kosuke Heki, seorang pakar geofisika terkemuka dari Hokkaido University, Jepang. Melalui kolaborasi riset bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ia membagikan perspektif krusial mengenai kemiripan pola tektonik Indonesia dengan Palung Nankai di Jepang.
Sebagai negara yang berada di cincin api pasifik, Indonesia memang dikelilingi oleh batas-batas lempeng tektonik yang terus bergerak aktif setiap tahunnya. Pergerakan lempeng ini menciptakan tekanan luar biasa pada batuan di bawah permukaan bumi. Ketika batas lempeng tersebut tidak mampu lagi menahan tekanan, energi besar akan terlepas seketika dalam bentuk guncangan dahsyat.
Membaca Pola Tektonik dan Potensi Gempa Megathrust Indonesia
Profesor Heki menjelaskan bahwa karakteristik akumulasi energi di Indonesia sangat mirip dengan Nankai Trough, salah satu zona megathrust paling aktif di dunia. Di Jepang, gempa bermagnitudo besar (M 8,0 atau lebih) secara historis terjadi dalam siklus berkala antara 50 hingga 100 tahun. Siklus ini memberikan gambaran bagi para ilmuwan untuk memetakan periode perulangan gempa bumi besar di kawasan rawan.
Baca Juga :
Meskipun waktu pasti terjadinya gempa belum dapat diprediksi secara matematis, teknologi modern menawarkan secercah harapan baru. Heki menekankan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi dalam jangka panjang sebagai fondasi utama mitigasi bencana gempa. Penggunaan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan sensor geodesi bawah laut menjadi instrumen vital untuk mengukur seberapa besar tekanan yang menumpuk di area pertemuan lempeng tektonik.
Teknologi GNSS bekerja dengan cara melacak pergeseran posisi daratan hingga skala milimeter secara real-time. Dengan data presisi tinggi ini, para peneliti dapat melihat area mana saja yang mengalami penguncian lempeng secara ekstrem. Penguncian inilah yang lambat laun akan memicu lepasnya energi raksasa dalam pusaran potensi gempa megathrust Indonesia. Fenomena pergeseran lambat atau slow slip event juga kerap terdeteksi sebagai sinyal awal sebelum guncangan hebat benar-benar terjadi.
Wilayah Paling Rawan: Dari Aceh Hingga Pulau Jawa
Indonesia sendiri memiliki bentangan zona subduksi aktif yang sangat panjang, membentang dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, hingga kawasan Maluku. Salah satu titik dengan potensi energi terbesar berada di zona megathrust Aceh-Andaman. Wilayah ujung barat Indonesia ini tercatat memiliki potensi kekuatan gempa maksimum hingga magnitudo 9,2, mirip dengan peristiwa megatsunami tahun 2004 silam.
Baca Juga :
Selain wilayah Sumatra, kawasan padat penduduk di Pulau Jawa juga menyimpan risiko bencana yang tidak kalah besar. Zona megathrust Jawa diperkirakan mampu memicu gempa bumi dengan kekuatan hingga magnitudo 8,9. Tingginya angka kepadatan penduduk di sepanjang pesisir selatan Jawa membuat studi mengenai potensi gempa megathrust Indonesia di wilayah ini menjadi prioritas utama pemerintah dan lembaga riset nasional.