Modus penipuan digital Lebaran kini menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang aktif melakukan transaksi dan silaturahmi secara daring menjelang hari raya. Indonesia Cyber Security Forum (ICSF) melaporkan adanya lonjakan tren kejahatan siber yang menyasar platform populer seperti WhatsApp dan Facebook. Momen puncak aktivitas digital ini sering kali menjadi celah bagi pelaku kriminal untuk menguras rekening atau mencuri data sensitif milik pengguna yang kurang waspada.
Lebaran memang identik dengan peningkatan volume transaksi ekonomi, mulai dari belanja baju baru di marketplace, transfer uang untuk keluarga di kampung halaman, hingga pembagian Tunjangan Hari Raya (THR). Aktivitas yang masif ini menciptakan ekosistem yang sangat menggiurkan bagi para peretas. Mereka memanfaatkan kelengahan pengguna yang tengah bersukacita untuk melancarkan serangan siber dengan berbagai skema manipulasi psikologis atau social engineering.
Founder and Chairman ICSF, Ardi Sutedja K., menjelaskan bahwa para pelaku kini menggunakan teknik yang jauh lebih rapi dan sulit terdeteksi oleh mata awam. Mereka tidak lagi sekadar mengirim pesan acak, melainkan menyusun narasi yang sangat meyakinkan agar korban merasa terdesak atau tergiur. Tingginya ketergantungan masyarakat pada ponsel pintar selama periode mudik dan Lebaran membuat risiko ini meningkat berkali-kali lipat dibandingkan hari biasa.
Baca Juga :
Mengenali Modus Penipuan Digital Lebaran yang Paling Sering Muncul
Salah satu modus penipuan digital Lebaran yang paling mendominasi adalah penawaran undian berhadiah palsu. Pelaku biasanya mengirimkan pesan melalui WhatsApp, SMS, atau surat elektronik yang mencatut nama besar perusahaan multinasional, marketplace ternama, hingga institusi perbankan. Pesan tersebut berisi iming-iming hadiah uang tunai atau barang mewah yang diklaim sebagai "Berkah Ramadhan" atau "Promo Lebaran".
Selain pesan singkat, media sosial seperti Facebook dan Instagram juga menjadi ladang subur bagi iklan palsu. Ardi mengungkapkan bahwa banyak pelaku yang memasang iklan promosi diskon Lebaran fiktif dengan harga yang tidak masuk akal. Ketika pengguna mengeklik iklan tersebut, mereka akan diarahkan ke situs web palsu yang dirancang untuk mencuri informasi kartu kredit atau data login perbankan korban.
Metode lain yang patut diwaspadai adalah phishing melalui tautan berbahaya. Dalam skema ini, pelaku mengirimkan tautan yang menyerupai alamat resmi institusi tertentu. Begitu korban memasukkan data pribadi di situs tiruan tersebut, pelaku langsung mengambil alih akun atau menyedot saldo yang ada. Teknik ini sering kali dibungkus dengan alasan pembaruan data sistem atau verifikasi keamanan akun menjelang libur panjang.
Baca Juga :
Platform yang Menjadi Incaran Utama Kejahatan Siber
Berdasarkan pengamatan ICSF, terdapat tiga kategori platform yang paling sering dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber selama musim Lebaran. Pertama adalah marketplace atau pasar daring. Di sini, penipuan sering terjadi melalui toko-toko palsu yang menjual produk imitasi atau melakukan transaksi di luar sistem resmi aplikasi untuk menghindari pelacakan.