Waspada penipuan digital jelang Lebaran menjadi peringatan keras bagi seluruh lapisan masyarakat seiring dengan meningkatnya aktivitas transaksi keuangan menjelang Hari Raya Idulfitri. Pakar keamanan siber mengingatkan bahwa para pelaku kejahatan kini bertindak lebih agresif dan nekat demi meraup keuntungan instan di tengah tingginya kebutuhan ekonomi menjelang lebaran.
Alfons Tanujaya, seorang pengamat teknologi informasi (IT) sekaligus pakar keamanan siber, mengungkapkan bahwa pola kejahatan siber yang muncul sebenarnya tidak mengalami perubahan signifikan secara teknis. Namun, intensitas dan keberanian pelaku dalam melancarkan serangan melonjak tajam dibandingkan hari-hari biasa.
“Pada prinsipnya kejahatan siber saat lebaran tetap sama, tetapi tingkat kejahatannya meninggi karena kebutuhan mendesak pelaku kejahatan yang membutuhkan uang. Mereka menjadi lebih sering dan nekat menjalankan aksinya,” ujar Alfons dalam keterangannya baru-baru ini.
Baca Juga :
Modus Penipuan Digital jelang Lebaran yang Patut Diwaspadai
Pelaku kejahatan siber biasanya memanfaatkan psikologi masyarakat yang sedang dalam kondisi konsumtif atau sangat membutuhkan dana tambahan. Berbagai skema lama tetap menjadi senjata utama, mulai dari tawaran investasi bodong hingga janji manis mendapatkan uang tunai tanpa perlu bekerja keras.
Selain itu, modus pencurian identitas dan phishing tetap menjadi ancaman paling nyata. Target utama para pelaku adalah menguasai akses mobile banking atau dompet digital milik korban. Dengan menguasai akses tersebut, pelaku dapat dengan mudah menguras saldo rekening hanya dalam hitungan menit.
Alfons menjelaskan bahwa teknik rekayasa sosial atau social engineering menjadi kunci keberhasilan para penipu. Dalam teknik ini, pelaku tidak menyerang sistem keamanan bank secara langsung, melainkan memanipulasi kelemahan psikologis manusia agar mau memberikan informasi rahasia secara sukarela.
Baca Juga :
Pelaku seringkali menyamar sebagai pihak berwenang atau institusi resmi untuk membangun kepercayaan instan. Mereka bisa berpura-pura menjadi petugas pajak, anggota kepolisian, atau layanan pelanggan (customer service) dari bank ternama. Dengan gaya bicara yang meyakinkan, mereka menggiring korban untuk mengeklik tautan berbahaya atau memberikan kode OTP (One-Time Password).
Mengapa Kejahatan Siber Meningkat di Bulan Ramadan?
Peningkatan aktivitas digital selama Ramadan hingga Lebaran menjadi celah besar bagi pelaku kriminal. Masyarakat cenderung lebih sering berbelanja online, memesan tiket mudik, hingga melakukan transfer uang untuk keluarga di kampung halaman. Kondisi ini menciptakan volume transaksi yang sangat besar, sehingga kewaspadaan seringkali menurun akibat kesibukan persiapan hari raya.
Alfons mengingatkan agar masyarakat tidak mudah tergiur oleh situs-situs yang menawarkan hadiah besar atau diskon yang tidak masuk akal. "Untuk mencegah ini, masyarakat harus menjaga aset digitalnya dengan baik. Jangan mudah percaya pada situs phishing yang dikirimkan melalui berbagai metode," tegasnya.
Baca Juga :
Kehadiran teknologi kecerdasan buatan (AI) juga diprediksi akan membuat konten phishing terlihat semakin profesional. Email atau pesan singkat yang dulu mungkin terlihat penuh salah ketik, kini bisa tampil dengan tata bahasa yang sempurna, membuat korban semakin sulit membedakan mana pesan asli dan mana yang palsu.